Senin, 09 Desember 2013

Pulau Miangas

Oleh: Steven (BNPB Manado) 
 
Sejarah pulau Miangas pada awalnya bernama Poilaten yang artinya ”dilihat dari Pilipina seperti kilat”. Alkisah seorang lelaki dari sulawesi tengah (Toli-toli) pergi ke Pilipina Selatan dan kemudian mengawini penduduk setempat. Di Pilipina mereka tinggal di gunung Kulama, gunung tertinggi di Pilipina atau disebut gunung Buki.  Suatu saat mereka mendapati pulau ini (Miangas) yang terlihat dari kejauahan seperti kapal dari timur laut. Mereka berdua masing-masing bernama Tinuri dan Sapu menaiki ikan hiu menuju pulau tersebut. Kedua orang itu datang ke pulau Poilaten yang masih kosong lalu tinggal di wilayah Tanjung Merah.
Setelah sekian lama, ada sekelompok orang dari pulau Dampulis (Nanusa, Talaud) berlayar ke Pilipina, dalam perjalanan mereka melihat pulau Poilaten dan tertarik untuk menyinggahinya, sehingga tidak jadi ke Pilipina. Ketika turun dari perahu dilihatnya jejak kaki, dan ia mencari-cari pemilik jejak kaki tersebut. Sewaktu menemukan Tinuri dan Sapu, merekapun mengikat kedua orang itu dan dinaikan ke perahu lalu berlayar kembali menuju Nanusa. Di tengah laut rombongan orang Dampulis membuang kedua orang tersebut ke laut dan melanjutkan perjalanan menuju Nanusa
Tinuri dan Sapu terapung-apung di laut, tiba-tiba ikan hiu yang pernah membawanya dari Pilipina datang lagi, ikan Hiu ini mengembalikan mereka ke pulau. Lama kelamahan orang-orang dari Dampulis datang lagi dengan membawa serombongan masyarakat Nanusa, sampai di pulau dilihatnya lagi, masih ada jejak kaki orang. Sampai bertemu dengan Tinuri dan Sapu yang pernah mereka buang, karena terkejut melihat keduanya masih hidup, orang-orang Dampulis beranggapan ada roh pada mereka sehingga jangan dibunuh lagi. Hingga mereka mulai hidup berdampingan sampai kawin mawin.  Sepanjang perjalanan sejarah, pulau Miangas beberapa kali berusaha dikuasai orang Pilipina terutama orang Sulu. Sampai sekarang terdapat beberapa bukti perlawanan/ perang orang Miangas melawan bangsa Pilipina seperti 2 buah benteng di Tanjung Bora dan Wui Batu (gunung keramat sekarang). Perang yang pertama pada waktu kedatangan orang Sulu Pilipina yang datang dengan 11 perahu dan jumlah 100 orang. Sementara di pulau Miangas baru didiami 5 kepala keluarga, dengan jumlah laki-laki ada 25 orang. Mereka membuat benteng di Tanjung Bora. Peperangan dengan tetesan darah para pendekar Miangas yang dipimpin seorang bernama ARE
Peperangan dengan orang Pilipina yang kedua yakni pada era panglima bernama Mura/mur’a. Orang Sulu datang dengan 5 perahu dan sebanyak 50 orang, mereka menyerang lagi. Setelahnya Mura mengambil batu besar dan mengangkatnya, ia menanam batu tersebut sampai dibawah tanah untuk menakuti orang Sulu hingga lari.
Perlawanan ketiga datang lagi orang Sulu      berjumlah 25 orang dan tinggal 2 perahu. Yang jadi panglima perang di Miangas orang Belanda dan sudah ada orang Cina yang bermukim, dan berdagang sini bernama Pentan dan Bela. Panglima perang asal Belanda tersebut bernama Andrikus. Merekapun bertarung di depan kantor Pos Angkatan Laut sekarang, dan kekuatan penduduk sudah ratusan orang. Orang Sulu menanyai, ada berapa penduduk dan kepala keluarga disini, dan apakah ada jago silat. Andrikus seorang bertubuh besar dan jago cabut kepala orang, lalu orang Cina tadi, jago silat bela diri. Jagoan dari Sulu dan Miangas saling berhadapan satu lawan satu atau duel. Kemenangan berpihak pada jagoan Miangas, dan orang Sulupun pulang.
Pulau Miangas memiliki beberapa nama, pertama Poilaten yang berarti kilat bahwa disini terpancar cahaya yang dilihat dari Pilipina dan saat 2 orang pertama berada di pulau ini, kilat menandakan bahwa 2 orang itu masih hidup. Nama kedua, Wui Batu yang berarti dilihat seperti batu dari jauh. Nama ketiga Tinonda berarti orang dari Nanusa berlayar kemari atau singgah dipulau ini. Nama keempat Miangas berarti malu atau namea dalam bahasa Sangir, dimana orang dari Talaud datang kesini sudah ada orang, dan menjadi malu. Miangas di artikan juga dengan menangis. Nama kelima, Palmas yang merupakan istilah orang Pilipina karena ada pohon pinang/palem ditanam orang Pilipina (sampai sekarang tersisa satu pohon Palem di Wui Batu), bagi orang Davao Pilipina menyebutnya Tagal Palmas.
Adat  di pulau Miangas mengenal adanya Eha atau larangan, semacam Eha untuk Manami seperti Mane’e di pulau Kakorotan. Eha ini melarang orang menangkap ikan pada lokasi tertentu lalu pada saat eha dibuka, masyarakat melakukan penangkapan ikan besar-besaran dan melakukan pesta syukuran desa dengan makan bersama. Manami terjadi saat orang tua dahulu berkeinginan ada kebersamaan dan tamasya melalui adat Eha, hasil tangkapan dibagi dan dimakan bersama.
Pada bulan Januari sampai Maret, dilarang masuk lokasi/ tangkap ikan, yang melanggar pinggir pantai akan dikenakan denda Rp. 100.000, kalau menangkap ikan dendanya Rp. 500.000. Dua  hari sebelum hari puncak acara dibuat tali yang panjang, pada hari puncak semua laki-laki diturunkan ke pantai lokasi manami yakni dari tanjung Ondene dan Libuang, mereka saling melingkar, ujungnya ketemu menjadi dua lingkaran, saat bersamaan posisi air laut sudah surut, dan ikan dikumpulkan dengan mudah. Hasil ikan tersebut dibagi-bagikan kepada pimpinan adat, pemerintah, masyarakat dan para tamu. Para tamu berada di bangsal utama yang disediakan, masyarakat di pondokan kecil atau sabuah-sabuah. Ikan untuk masyarakat sebagian dibakar atau dimasak pada masing-masing sabuah. Setelah semua telah siap, diadakanlah makan bersama dengan diiringi pagelaran seni budaya setempat.
Tradisi adat lainnya seperti kunci tahun yang digelar awal bulan Januari. Pesta kunci tahun semacam Tulude di sangihe ini diacarakan dengan tarian perang cakalele serta tarian lainnya. Kemudian pada akhir Januari dilakukan acara pelepasan warga untuk memasuki masa kerja, dimana para pekerja menurunkan alat-alat kerjanya seperti petani menurunkan peda, pegawai menurunkan pena, nelayan menurunkan panggayung, dll. Karena tahun yang baru, mereka menurunkan semua alat-alat dan memohon kepada yang Maha Kuasa untuk diberi kekuatan, pertolongan, berkat dibulan pertama tersebut. Pada bulan keempat (bulan April) dilakukan acara ucapan syukur (hasil panen), dilakukan dengan beribadah ke gereja/ doa di gereja, lalu makan-makan ditiap rumah. Aturan adat setempat masih tergolong kuat terutama dalam mengatur tata moral masyarakat, seperti adanya sangsi kepada mereka yang melakukan pelanggaran moral yang berat, seperti perselingkuhan, pencurian.
Struktur pemerintahan adat masih dipelihara yakni dipimpin seorang Ratumbanua atau Mangkubumi I dengan wakilnya Inanguanua atau Mangkubumi II. Kemudian dibawahnya ada 12 kepala suku yang membawahi masing-masing kelompok keluarga besar. Pemimpin-pemimpin adat ini tidak memiliki periode tetap, tetapi apabila melakukan kesalahan atau mengundurkan diri maka bisa diganti, yang melakukan pergantian adalah masyarakat. Kepala suku diangkat oleh masyarakat oleh anak-anak kepala suku dan Ratumbanua tidak bisa memberhentikan kepala suku. Kalau kepala desa dipilih oleh masyarakat, dalam pemilihan kepala desa, warga lebih melihat figur calon kepala desa meskipun dari suku kecil.
Perekonomian masyarakat pulau Miangas mengandalkan perkebunan Kelapa untuk membuat Kopra, disamping nelayan, pegawai, berdagang, dll. Dahulu masih berlangsung perdagangan pelintas batas pendapatan masyarakat sampai 100-200 ribu per hari, dengan jual beli barang dengan orang-orang Pilipina. Kondisi terakhir sekarang menurut Robustianus seorang warga setempat, bahwa disayangkan pembeli yang datang dari pilipina mendapatkan banyak pungutan resmi dan pungutan liar, sehingga aktivitas jual beli terhenti.
Persoalan pelik lainnya masyarakat menghadapi ketiadaan bahan bakar minyak bumi, yang telah berlangsung lama, apalagi telah adanya larangan menaikan bahan bakar minyak bumi di kapal-kapal pengangkut umum seperti kapal perintis. ”telah disediakan tangki penampung bahan bakar, namun isinya tidak ada, warga sini menjadi sangat kesusahan, tidak bisa melaut lagi, kecuali menangkap ikan dengan mengandalkan panggayung saja. Ini beresiko sebab arus laut setempat sangat besar, kalau tidak pakai mesin, perahu dapat terhanyut ke laut lepas” kata Robustianus Papea yang juga Inanguanua Miangas. Sebagai Inanguanua, Papea menambahkan perlu perhatian kepada pengembangan sejarah budaya setempat terutama fasilitas pada lokasi situs sejarah.
Mengenai sarana prasarana pelabuhan sebagai sarana sangat vital bagi masyarakat setempat belum memecahkan persoalan dalam mengatasi masalah bersandarnya kapal-kapal dari luar Miangas saat terjadi gelombang  besar pada dermaga yang ada sekarang. Dengan kondisi demikian masyarakat Miangas akan terisolir selama beberapa bulan karena tidak ada kapal masuk yang membawa stok atau bahan-bahan makanan, dan bahan lainnya. Sehingga solusinya perlu ada dermaga kedua pada bagian pulau lainnya yang berbeda tempat dan saling membelakangi. Kalau cuaca buruk kapal yang ke Miangas akan bersandar di bagian dermaga sebelahnya.

PENGARUH HINDUISME DALAM MITOS ASAL-USUL KERAJAAN TAMPUNGANG LAWO (DAN BUDAYA MOYANG SATAS SEBELUM PARUH KEDUA ABAD KE-16)

Oleh: Sovian Lawendatu
 
Mitos terjadinya Kerajaan Tampungang Lawo, dengan Raja dan Permaisuri Ghumansa Langi (Medellu) dan Onda Asa (Mekilla) tampaknya dipengaruhi oleh Hinduisme, khususnya menyangkut Wiracarita RAMA & SHITA. Konon Ghumansa Langi adalah Putera Mahkota Kerajaan COTABATU di Mindanao Selatan, yang dibuang ke hutan sebelum akhirnya (atas kehendak DUATA) menjadi Raja di Salurang/Moade yang kelak dinamai Tampungang Lawo. Pembuangan Ghumansa Langi itu konon atas permintaan permaisuri muda Raja Cota Batu (ayah Ghumansa Langi) yang menghendaki agar yang menjadi ahliwaris kerajaan bukan Ghumansa Langi melainkan putera dari permaisuri muda itu. Di situlah terlihat kesejajaran alur (plot) cerita/mitos asal-usul Kerajaan Tampungang Lawo dengan wiracarita Rama & Shita (terkenal dengan RAMAYANA). 

Pengaruh Hinduisme ini kiranya jelas juga dengan kehadiran tokoh dewa DUATA/RUATA. Brilman memang mencatat bahwa sebelum paruh kedua abad ke-16, penduduk kepulauan Sangihe dan Talaud menganut kepercayaan dewa-dewa di samping praanimisme (kepercayaan mana), animisme, dan penyembahan orang mati. Dalam hal ini, salah satu dewa yang dipercaya oleh penduduk kepulauan Sangihe dan Talaud adalah DUATA, yang menurut Brilman berasal dari kata/nama DEWATA. 

Pengaruh Hinduisme itu saya kira dapat dilacak melalui faktor Kerajaan MAJAPAHIT sebagai Kerajaan Hindu-Jawa yang tergolong KERAJAAN NUSANTARA II. Bukankah Sangihe dan Talaud termasuk dalam wilayah Kekuasaan Majapahit? Ada lagi unsur-unsur budaya Hinduisme (Hindu-Jawa) yang memperlihatkan kepengaruhannya atas budaya/agama atau mungkin lebih luas lagi PANDANGAN DUNIA (LEBENSWELT) Penduduk Sangihe dan Talaud pada masa itu, yaitu alat musik NANAUNGAN (yang mirip gamelan), TAGHONGONG. Bahkan dapat diduga bahwa Upacara ADAT TULUDE (MEMOTONG TAMO), yang konon bermula pada masa Perkawinan MAKAAMPO WAWENGEHE, merupakan pengaruh tradisi ritual MEMOTONG TUMPENG di Jawa, sementara tradisi MENAHULENDING BANUA agaknya dapat dilacak sumbernya pada Ritus MERUWAT di dunia budaya Jawa (Hindu-Jawa). 

Lebih jauh, untuk menelisik adanya pengaruh Hinduisme (Agama/Budaya/Pandangan dunia Hinduisme atau Hindu Jawa atas budaya Sangihe dan Talaud pada masa itu kiranya dapat memanfaatkan SASALAMATE (juga SASAMBO, KAKUMBAEDE, KAKALANTO). Khusus menyangkut SASALAMATE, saya sudah coba menelusurinya melalui Perspektif SOSIOLOGI SASTRA/SENI FENOMENOLOGIS, seperti yang pernah saya posting di grup ini. Sebab memanglah (bagi saya), SASALAMATE dari segi isinya termasuk MITOS AETOLOGIS, yakni mitos yang mengandung larangan, perintah dan adat).

Senin, 26 Agustus 2013

SAKEHA



Di pantai tempat yang sangat baik untuk peristirahatan bagi pengembara, tempat yang dalam bahasa Siau disebut sebagai “Mangilaghaeng”. Dengan kata lain Mangilaghaeng berarti tempat yang baik untuk beristirahat. Pantainya berpasir, ditumbuhi pohon-pohon besar seperti pohon dingkalreng, penimbuhing dan bitung yang akar-akarnya timbul di permukaan tanah dan menggelantung, saling kait mengait menyerupai gua yang lengkap dengan untaian akar serabut. Serabut akar itu seringkali digunakan penduduk sebagai ayun-ayunan. Sedangkan orang-orang dewasa dapat melepas lelah setelah melaut atau sesudah berkebun, membaringkan diri mereka di atas hamparan pasir, di bawah rindang pepohonan raksasa yang berjejer itu. Bahkan sampai pagi. Sungguh indah suasana kala itu.  Itulah gambaran landscape pantai Laghaeng hingga era 1980an.

Ditelisik jauh ke belakang, yaitu dibalik sejarah berdirinya kampung, di sebelah selatan perkampungan terdapat sekelompok orang yang berasal dari Kampung Makoa. Orang-orang itu menetap sementara waktu, karena keperluan melaut. Tempat yang mereka tinggali dipenuhi pohon sagu yang disebut baru atau bahu di pesisir pantainya. Sedangkan orang-orang membangun daseng mereka di tempat yang agak tinggi. Tempat itu dinamakan Bowong Bahu. Di kemudian hari tempat itu disebut Bombahu atau Bumbahu. 

Di Mangilaghaeng hiduplah sepasang suami isteri bernama Sakeha dan Siondaľi dengan beberapa keluarga merupakan keturunan Gehiwu yang awalnya menetap di puncak Bukit Megembalo. Sakeha dikenal sebagai pria yang memiliki kekayaan melimpah tetapi rendah hatinya. Isterinya, Siondaľi wanita yang amat cantik, memiliki rambut lurus sampai ke tumit dan kulitnya putih mulus, tidak heran kecantikannya memikat hati banyak orang. Dalam hal bergaul, Sakeha tidak memilih sahabat, ia bergaul dengan siapa saja karena semua orang dipandangnya baik. Sungguh pikirannya selalu positif. Sikap itulah yang membuat putri Siondali takluk dan mau dinikahi oleh Sakeha. Kedua sejoli itu hidup damai dan sejahtera, penuh kearifan dan kekayaan materi. Sakeha membuat sebilah belati dari emas murni dan isterinya mengoleksi ratusan barang-barang emas, seperti kalung, anting, gelang, serta perhiasan-perhiasan lainnya yang diletakkannya pada sebuah piring putih (pinggang uhise).

Sementara itu di Bumbahu hidup sekelompok orang yang seringkali turun ke pantai Mangilaghaeng untuk melepas lelah. Sakeha yang bertubuh kekar itu dijuluki “bahani” dan berteman karib dengan Mangintari dari Bumbahu. Mangintari sudah lama mengidap penyakit kulit sehingga tubuhnya bersisik. Dalam persahabatan kedua lelaki itu Mangintari kemudian merasa terpikat hatinya melihat kecantikan Siondal’i.   

Sejatinya Sakeha dengan belati emasnya, mampu menarik murninya cinta Siondali. Sebaliknya, Mangintari merasa jatuh cinta pada Siondali meski hanya bertepuk sebelah tangan. Mangintari menyusun siasat untuk melenyapkan Sakeha dari muka bumi. Diajaknya Sakeha mencari ikan (mubae) dengan satu perahu didayung bersama.

Ketika hendak melaut bersama, Mangintari mengambil belati emas milik Sakeha kemudian menjatuhkannya ke dasar laut, karena pikirnya, belati itulah yang selama ini menjadi sumber segala kesaktian Sakeha sehingga dengan mudahnya memperoleh kekayaan dan isteri yang cantik. Sakeha kaget melihat perbuatan Mangintari, kemudian bertindak spontan menyelam ke dasar laut mengejar belatinya dengan menggunakan tolu di kepalanya. Sakeha tak sempat membuka tolu yang dikenakannya saat itu.

Sebelum belati emasnya menyentuh dasar laut, belati itu terlebih dulu menancap di ujung tolu yang dikenakan Sakeha, kemudian dirinya kembali ke permukaan dengan belati sakti yang tertancap kuat di tolu-nya.

Sementara Sakeha sedang berjuang keras mengejar belatinya tadi, Mangintari buru-buru kembali ke daratan dan memberitahukan kepada seluruh penduduk di Laghaeng maupun penduduk bahwa Sakeha telah tenggelam ke dasar laut dan dimangsa ikan hiu. Mangintaripun pergi hendak meminang janda Sakeha, si Siondal’i. Mendengar kabar itu, Siondal’I menangis semalam suntuk lalu menolak mentah-mentah lamaran Mangintari.

Ketika subuh datang, Siondali naik ke Pahempang melalui “dal’eng batu” membawa semua harta emasnya yang diletakkan di piring uhise. Dari atas Pahempang ia lalu menangis sekuat-kuatnya sehingga didengar oleh semua penduduk, kemudian membuang dirinya dan seluruh emasnya ke tubir Kampung Laghaeng. Dan hingga kini, tak seorangpun menemukan jasad Siondalri dan harta itu kembali. Dalam tangisnya Siondali berpesan bahwa harta kekayaannya tidak berguna sama sekali, lebih baik dirinya kehilangan emas daripada kehilangan kekasih hatinya yang selama ini hidup bersama penuh cinta. Sejak saat itu dikenallah pepatah Laghaeng “Maning Bulraeng Sindepa, Tamakasulrung Pudalahiking Mapia”.  
       
Padahal, sesungguhnya Sakeha ditolong oleh Hiu raksasa (Tangahiang) dan selama tiga hari tiga malam mereka pergi ke semua nusa untuk menyampaikan kabar sekaligus anjuran perdamaian tentang jasa pertolongan Hiu kepada anak manusia (Sakeha), sehingga seluruh manusia di nusa-nusa sejak saat itu dilarang memburu dan makan daging Hiu. Jika anjuran ini tidak diindakan, maka hukumannya adalah manusia akan dimangsa Hiu, sebaliknya jika anjuran ini ditegakkan, maka manusia akan ditolong dari bahaya di lautan.  

Setelah melakukan misi mulia itu, pada petang di hari ketiga, tiba-tiba pantai Laghaeng dan segala isinya dihantam ombak yang amat besar seperti sedang mengalami tsunami. Ombak itu terjadi karena amukan banyak ikan hiu yang berseliweran dan menggelorakan air laut di pantai Laghaeng. Tsunami itu memporak-porandakan setiap sudut kampung sampai hancur lebur. Begitu banyak ikan-ikan seperti ikan layang dan ikan bergerigi panjang dan tajam (ikan selong) menancap dan menembus batang pohon-pohon pisang milik warga. Warga mengungsi ke kaki bukit Magembalo dan kaki bukit Gumahe. Dalam pengungsian yang mendadak itu, warga mengalami kekurangan makanan dan ikan-ikan yang menancap di pohon pisang kemudian diambil warga untuk dikonsumsi. Sejak saat itu kampung baru yang ditempati warga eksodus itu diberi nama “laghae” yang artinya masaklah.  

Warga Laghaeng yang mengungsi kala itu melihat langsung aksi gagah perkasa Sakeha yang mengendarai Tangahiang dan mendamparkan dirinya di sebuah batu datar yang terletak samping Batu Darisi (batu berdiri). Mulut Tangahiang terbuka lebar setinggi batu darisi itu sembari menakut-nakuti penduduk yang sedang lari tunggang langgang. Sakeha kemudian turun dari punggung Tangahiang dengan melompat ke atas batu datar itu dan menenangkan seluruh warga agar tidak panik. 

Sebagai rasa terimakasihnya pada Tangahiang, Sakeha mencari bunga Manuru dicampur dengan pohon-pohon wewangian lainnya diramu menjadi air wewangian yang dimandikan kepada Tangahiang. Hiu raksasa itupun menjadi betah tinggal di Laut Laghaeng. Tangahiang memberi tanda kepada Sakeha bahwa dalam tiga hari Sakeha tidak boleh mandi di laut.
Sakeha tidak membalas perbuatan jahat yang dilakukan Mangintari terhadap dirinya. Karena jelas tidak dapat menghidupkan kembali isteri tercintanya. Hanya saja, Sakeha telah belajar banyak perilaku sahabatnya yang sudah melakukan perbuatan jahat dan tetap mengampuni dan mengasihani Mangintari seperti saudaranya sekandung. 

Setelah tiga hari yang diisyaratkan oleh Tangahiang, sekelompok Hiu kembali menyerang pantai Laghaeng dan ombak besar menghantam semua yang tinggal di kampung. Pada saat itulah, Mangintari lenyap ditelan ombak dan dimakan Hiu secara mengenaskan.  Sikap patriotik dan ksatria Sakeha ini, menjadi teladan bagi keturunannya di Kampung Laghaeng.

Dalam perjalanan sejarah di kemudian hari, kampung Laghae berubah nama menjadi Laghaeng. Kedua huruf “ng” ditambahkan kemudian pada abad ke 19 oleh Guru Kakalang. Sejak saat itu Kampung Laghae menjadi Kampung Laghaeng. Yang dimaksud dengan Kampung Laghaeng adalah kampung dimana Tangahiang dan Sakeha mendarat. Kampung yang dulunya satu bagian utuh itu, kini terpisah. Warga yang menempati kaki bukit Megembalo menjadi warga kampung Laghaeng, sedangkan warga yang menempati kaki bukit Gumahe yaitu kawasan yang ditumbuhi banyak pohon bahu (sejenis palm untuk membuat sagu), disebut sebagai warga Bumbahu. 

Kedua tempat Bumbahu dan Laghaeng dibatasi oleh satu anak bukit yang disebut Peliang sementara di kedua ujung kampung, terdapat tanjung yang disebut Tonggeng Laghaeng dan Tonggeng Bumbahu, keduanya selanjutnya dinamakan Tonggene. Bukit kecil yang menjadi batas pemisah Laghaeng-Bumbahu menjadi tempat dikuburkannya jasad Siondali dan bukit Pahempang yang tersambung dengan tanjung Laghaeng dimana Batu Darisi itu berada, menjadi tempat dimakamkannya Sakeha. Persisnya, makam Sakeha dapat dijumpai di tempat yang detilnya disebut “tamba” dan Siondali makamnya di “Bowong Peliang”. Peliang sendiri berasal dari kata peli yang berarti tabuh, sehingga Peliang dapat diartikan: yang ditabuhkan. Setiap orang yang hendak berjalan melewati Peliang, dilarang berbicara dengan suara keras apalagi ribut, karena di tempat ini sangat mateling[1].

Sumber Wawancara: George Takalmingan, A Maningide Frens Kampong, Frans Kampong, Martin Lukas,


[1] Sudirno Kaghoo dalam artikel: Kepribadian Malunsemahe: Mateleng, Matelang, Mateling.




Sabtu, 10 November 2012

HENGKENG U NAUNG


Hengkeng U Naung memiliki perlengkapan senjata Tombak Trisula (Alabadiri) dan sebuah Pedang Bara. Ketika hendak berperang, ia mengenakan zirah yang dipintalnya sendiri dari batang sakede.

Jumat, 09 November 2012

PAHLAWAN HENGKENG U NAUNG

Hengkeng U Naung, pahlawan dari Timeno Kiawang Siau lahir tahun 1590. Sejak kecil giat melatih dirinya dengan keahlian bergulat dan tangkas bermain pedang bara pada usia belasan tahun. Di umur 20 tahun berjumpa D'Arras jogugu Ondong menjadi salah satu tentara ahli dalam bidang kelautan.

Tindakan patriotik dilakukan pertama kali setelah dirinya berhasil mendamaikan Maho

nis (Jogugu Ulu) dengan D'Arras (Jogugu Ondong), sehingga Datu Winsulangi mengangkat Hengkeng U Naung menjadi Kontraktor Proyek Pembangunan Armada Angkatan Laut pada tahun 1612. Proyek tersebut tuntas dilaksanakan. Hengkeng menciptakan Jubah Sakti dari Benang Sakede yang tak bisa ditembusi parang bara dan tombak.

Hengkeng U Naung diminta jasanya untuk memberantas tindakan teror Makaampo dan berhasil mengamankan Tampungang Lawo (Sangihe). Setelah itu dirinya beradu kesaktian dengan seorang pahlawan Dagho, Ansuang Killa. Pertempuran keduanya berimbang dan berakhir dengan genjatan senjata karena tidak ada pihak yang kalah.

Dirinya bersua dengan gadis pemain musik Olri di Mahangetang dan menjadi partner hidup sekaligus mitra berperang melawan teroris Onding yang meneror kehidupan rakyat Makalehi. Dengan senandung Sasambo dan alunan musik Olri isterinya, Hengkeng U Naung berhasil mengamankan rakyat Makalehi dari teror Onding.

Pada tahun 1621 Hengkeng U Naung berhasil mengamankan Kabaruan dari kemelut dan gejolak perang saudara di kawasan Porodisa sehingga Kabaruan menjadi daerah kekuasaan Siau. Sikap patriotismenya terus bertumbuh-kembang, membela kaum lemah dan mengejar para Perompak Mangindano ke selatan yang hendak meneror kehidupan warga Minahasa yang kaya raya dengan beras. Usaha perompak merampas beras Minahasa dapat dihalau oleh Sekutu Pasukan Para Walak Minahasa dan Pasukan Kora-Kora Hengkeng U Naung pada Pertempuran Kasuang tahun 1640. Itulah ekspedisi perdana seorang pahlawan yang berjuluk Bawata Nusa ini.

Hengkeng U Naung, atas perintah Raja Batahi melakukan ekspedisi kedua ke selatan untuk tujuan mengejar dan menaklukan semua bentuk kejahatan. Beberapa kerajaan lokal yang berkarakter keras dan menyengsarakan rakyatnya sendiri turut diberi pelajaran. Semisal Raja Makaaloh di Talawaan berhasil ditaklukan pada tahun 1642 dan Angkoka, Raja Singkil yang berhasil ditundukkan pada tahun berikutnya.

Armada Angkatan Perang Kora-Kora dan Bininta Hengkeng U Naung tiba di Leok Buol pada tahun 1645, berhasil menghalau Angkatan Laut Kerajaan Gowa yang hendak menaklukan kawasan Utara Pulau Sulawesi (Sulawesi Utara). Angkatan Laut Kerajaan Gowa hancur lebur di pantai laut Leok Buol. Kerajaan Gowa kemudian meminta kerjasama Pasukan Hengkeng U Naung untuk berperang melawan Kerajaan Bone pimpinan Arung Palakka yang dibawa pengaruh Belanda. Arung Palakka melarikan diri ke Batavia seraya meminta bantuan Belanda sebelum meletusnya Perang Makasar antara Gowa dan Bone pada tahun 1666.

Pada tahun yang sama (1666), Pasukan Kora-Kora pimpinan Hengkeng U Naung sudah kembali ke pangkalan Angkatan Laut di Kedatuan Siau karena mendapat kabar bahwa penghuni Benteng Kastila (Tentara Portugis) sedang melakukan tindakan teror pada penduduk Siau. Ancaman Dalam Negeri ini lantas diberangus oleh Laskar Hengkeng U Naung sampai penduduk kembali hidup merdeka.

Pada usia yang tua (80 tahun) yaitu pada tahun 1668, Hengkeng U Naung meninggal dunia dengan damai dan dimakamkan oleh keluarganya di tempat yang diamanatkannya, Timeno Kiawang.

Sungguh sebuah aksi yang berakhir Malunsemahe untuk Sulawesi Utara dalam KeIndonesiaan Hengkeng U Naung.

Jumat, 14 September 2012

TRILOGI CANGKE (Permainan Berkelompok Anak-Anak Siau)


Saya masih ingat persis cara bermain cangke. Cangke adalah permainan anak-anak di pulau Siau yang menggunakan dua potong kayu. Kayu yang digunakan pada umumnya belahan bambu. Tetapi bisa juga menggunakan kayu yang lebih keras dan berbentuk bulat memanjang. Potongan kayu yang digunakan sebagai pemukul, ukurannya lebih panjang. Biasanya 60 cm sampai 70 cm. Sementara kayu yang lebih pendek ukurannya hanya sekitar 20 cm saja. Kayu pendek itu menjadi rebutan dalam permainan cangke.

Cangke dimainkan oleh dua orang atau lebih secara kelompok berpasangan. Tetapi sangat jarang dimainkan oleh lebih dari 3 pasang atau 6 orang pada ruang yang relatf sempit. Sebelum permainan dimulai, pemain terlebih dahulu menggali lubang berbentuk lonjong yang ujung depannya dibuat lancip. Pasangan yang akan bermain terlebih dahulu melakukan suten jari tangan, sebagai pembuka sekaligus penentuan siapa atau kelompok mana yang akan menjadi pemukul dan penangkap kayu pendek. Aturannya, pemenang suten bertindak sebagai pemain yang memainkan permainannya di lubang dan yang kalah dalam tahapan suten menjadi penangkap kayu pendek. Pihak yang kalah suten ini berdiri berjejer pada jarak kurang lebih 5 hingga 15 meter di depan lubang.

Ada tiga tahapan (stage) yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang bermain di lubang, yaitu:
  1. Stage Soi. Tahap soi ini adalah tahapan paling mudah dikerjakan oleh kedua tim. Salah satu dari anggota kelompok pemukul melakukan tahap soi dengan cara meletakkan kayu pendek melintang di atas lubang lalu kayu pemukul dimasukan kedalam lubang persis menyalib kayu pendek kemudian diangkat sekuat-kuatnya kedepan atau dapat diangkat perlahan sesuai dengan posisi kelompok lawan main yang berjejer di depan. Strategi orang yang melakukan soi pada umumnya memilih celah tempat dimana tidak ada orang berdiri sehingga kayu pendek itu tidak bisa ditangkap oleh kelompok lawan. Bilamana salah seorang dari kelompok lawan berhasil menangkap kayu pendek yang sedang melayang di udara dengan sebelah tangan, maka hitungan pointnya adalah 100 dan kelompok pemukul dinyatakan kalah. Permainan dimenangkan oleh kelompok penangkap. Kompensasinya adalah pasangan dari anggota kelompok yang kalah harus bersedia menggendong pasangannya sampai pada titik terjauh dari kayu pendek yang akan dipukul oleh kelompok penangkap selaku pemenang permainan. Akan tetapi, jika ternyata kelompok penangkap berhasil menangkap kayu kecil dengan dua tangan, maka point yang diperoleh adalah 50. Kelompok penangkap harus menambah pointnya pada kesempatan menangkap di tahap kedua dan atau tahap ketiga. Tetapi jika kelompok penangkap gagal menangkap kayu kecil pada tahap soi ini, itu artinya kesempatan bagi kelompok pemukul untuk melanjutkan tahapan kedua.     
  2. Stage Pepele. Tahap ini permainan mulai menantang. Ada tiga cara memukul; cara pertama yang biasanya diterapkan oleh pemain yang berjenis kelamin perempuan, yaitu, memposisikan kayu kecil dipegang oleh tangan kiri (bagi yg bukan kidal) atau kanan (bagi yg kidal) pada posisi kayu kecil terletak horisontal, lalu dipukul dari arah bawah seperti sedang melakukan service pada permainan badminton. Cara kedua agak sedikit menakuti lawan main, yaitu dengan meletakkan kayu kecil pada posisi vertikal sehingga hasil pukulannyapun cukup keras. Bagi kelompok penangkap yang berdiri pada jarak dekat dengan pemukul, biasanya tidak berani menangkap pukulan bentuk kedua ini dan berusaha menghindar dari arah yang disasar pemukul. Cara ketiga, adalah cara paling keras, yaitu melempar kayu pendek ke udara lantas dipukul dengan kuat sehingga semua anggota kelompok penangkap baik yang di depan maupun yang di belakang pada jarak terjauhpun tidak berani menangkap kayu yang melayang dari pukulan ketiga ini karena tekanannya sangat kuat. Sangat beruntung bagi kelompok penangkap apabila mereka berhasil menangkap kayu pendek yang dimainkan oleh kelompok pemukul pada tahapan pepele ini. 
  3. Stage Cangke. Tahap cangke merupakan tahap puncak sekaligus misi penutup bagi kelompok pemukul. Stage ketiga ini paling menegangkan. Jarang sekali ada kelompok pemukul yang mampu memainkan stage ini dengan sangat sempurna. Tingkat kesulitannya amat tinggi. Ini merupakan kombinasi antara stage 1 dan 2. Kayu kecil diletakkan pada bagian ujung lubang yang lancip dengan posisi kayu pendek mengikuti bentuk lancip dan setengah berdiri. Ujung kayu kecil itu harus lebih menjorok keluar lubang kira-kira 3 cm sampai 6 cm. Posisi memukul dari samping lubang. Bagian yang akan dipukul adalah ujung kayu kecil yang menjorok keluar itu, dengan cukup tenaga dan perasaan, sehingga kayu kecil akan melenting ke atas udara setinggi pandangan pemukul, kemudian pemukul wajib memukul pendek perlahan untuk satu kelipatan 5 poin. Kayu kecil itu makin kuat dipukul makin cepat melesat geraknya kedepan ke arah lawan sehingga memungkinkan lawan untuk menangkap (itupun jika lawan berani menangkap), tetapi jika tidak, maka peluang pemukul semakin besar untuk menambah kelipatan 5 pada pukulan kedua dan seterusnya. Pukulan pemukul pada stage 3 ini disebut pukulan cangke. Bila pemukul berhasil memukul sampai 2 kali, dan pada pukulan ke 2 kayu pendek sudah jatuh ke tanah pada jarak yang dekat dengan posisi lubang, selanjutnya akan dihitung kumpulan poin dari tim pemukul dimulai dari angka 10. Cara menghitungnya dilakukan dengan meletakan kayu panjang pada posisi jatuh kayu pendek ke arah yang simetris dengan posisi mulut lubang. Jika jumlah hitungan mencapai angka 100, artinya kelompok pemukul berhasil memenangkan permainan. Kompensasinya adalah digendong oleh kelompok penangkap yang kalah itu. Tetapi lain halnya ketika pada stage 3 ini, ternyata kelompok penangkap berhasil menangkap pukulan cangke yang amat berbahaya itu dengan satu tangan, maka kelompok pemukul harus mengakui kekalahannya.    
Permainan ini tidak diketahui persis kapan mulai ditemukan. Tetapi saya tahu persis bahwa di kampungku Laghaeng, generasi terakhir yang memainkan permainan cangke adalah generasi saya. Kami bermain sekitar kurun tahun 80-an. Sejak saat itu beberapa orang tua menganjurkan pelarangan terhadap anak-anak mereka untuk tidak melestarikan permainan ini karena terlampau berbahaya. Sayang sekali, seharusnya kita memodifikasi permainan ini dengan menggunakan alat bantu yang dapat digunakan sebagai pelindung. Bagi saya, permainan ini penting dilestarikan karena terkait dengan pembentukan karakter saya sebagai pribadi orang Siau yang malunsemahe.

Rabu, 12 September 2012

Peta Pergerakan Penduduk di Sulawesi Tahun 1880 - 1942.


Bolaang Mongondow merupakan daerah yang pergerakan penduduknya paling lembam di banding dengan Sangir-Talaud, Minahasa dan Gorontalo. Pergerakan penduduk ini mempengeruhi mentalitas sebuah lingkaran budaya.
 
 Sumber: A.J. Gooszen, "Een demografisch mozaiek, Indonesië 1880-1942" [1994]

Selasa, 11 September 2012

BAHA VS PUMPENUNG




Monyet dan kura-kura berkawan baik. Monyet menetap di atas pohon "Dingkalreng" di tepi pantai, tempat kura-kura mandi. Monyet banyak akalnya, tetapi bertingkah buruk pada sahabatnya. Si kura-kura sosok yang halus berperangai senang. Dermawan memberi bagiannya kepada setiap sahabat. Tidak memilih dalam berteman. Kura-kura saat itu masih dilarang hidup di daratan. harus hidup di dalam air. Karena dilarang oleh monyet. Kura-kura teliti meski perlahan gerakannya jika di daratan, tetapi sangat cepat bergerak kalau bertanding dalam air. Juga kura-kura rajin bekerja. Monyet malas, suka tidur di atas pohon, meskipun angin barat bertiup kencang, ia tetap tidur. Jika ditiup angin selatan, barulah monyet dapat jatuh dari atas pohon. Di waktu itu, pantat monyet masih berwarna hitam seperti kulitnya..... Hahahahaha.  

Pada suatu hari, monyet turun dari atas pohon dingkalreng di tepi pantai. Monyet mengajak si kura-kura menanam pisang. Kata monyet, marilah kita berdua bertanding menanam pisang. Jika engkau dapat menanam pisang yang berbuah baik, maka engkau boleh naik dan hidup di daratan, Jika tidak, maka engkau tetap hidup di air laut. Kura-kura mengiakannya. Baiklah sahabatku, kata kura-kura. Monyetpun membagi tempat untuk menanam pisang. Dia menyuruh si kura-kura menanam di bawah kaki bukit, tempat yang jauh dari tepi pantai, supaya dekat baginya memantau pertumbuhan pisang dari atas pohon dingkalreng. Jadi tidak ada satupun pohon pisang yg ditanam monyet bertumbuh. Di bawah kaki bukit, pohon pisang yang ditanam kura-kuralah yang subur pertumbuhannya, buahnya besar. Monyet melihat pohon pisang milik kura-kura bertumbuh bagus, maka senanglah hati monyet....:)

Sampailah waktu pisang sudah masak. Monyet pergi bertamu pada kura-kura. Monyet berkata, pisang yang kau tanam sudah masak dan barangkali akan didahului oleh kelelawar kalau tidak segera dipanen sekarang. Jadi, kita berdua harus segra panen sekarang. Jawab Kura-kura; hai monyet, apa maksud bicaramu? disana itu pisangku, bukan pisang yang kita berdua tanami bersama. Monyet tidak kehilangan akalnya, dirayunya kura-kura: pahamilah kawan, matahari sudah mulai terbenam, sesaat lagi kelelawar akan datang merampok buah pisang yang masak itu. Ayolah kita memanennya sekarang, aku akan naik, dan kau menunggu saja di bawa batangnya, aku akan memberikan bagianmu, bagian yang pertama adalah bagianmu.

Jadilah mereka berdua pergi ke kebun sore itu. Monyet yang lincah tiba-tiba sudah berada di atas pohon pisang. Apa yang terjadi? Monyet sudah memakan buah pisang sendiri. Makan sebuah, menambah sebuah, menamba dua. Habis buahnya. Kulitnya dibuang dihadapan sahabatnya, pemilik pohon pisang. Kekenyanglah si monyet rakus, sampai lupa diri kalau pisang itu bukan hasil jerih payahnya, meksipun dia yang mengajak kura-kura. Sampai buah pisang habis, si kura-kura setia menunggu di bawa pohon, menunggui bagiannya yang dijatuhkan monyet. Setiap yang jatuh adalah kulit pisang. Karena sudah merasa lapar, maka kura-kura membakar besi panjang sampai memerah. Ketika sudah merah, kura-kura mendekat ke batang pisang yang dinaiki monyet, sambil bertanya, mana bagianku monyet? Kekurangajaran si monyet, diberikanlah pantat hitamnya itu ke hadapan kura-kura. Pada saat yang sama, besi merah itu melesat masuk ke pantat monyet. Monyetpun jatuh, melompat tak karuan mencari air untuk menghilangkan panas karna nyala api. Tidak ditemukan tempat yang berair. Sejak saat itu, pantat monyet berubah menjadi merah, si kura-kura diperbolehkan hidup di daratan, mengganti namanya menjadi Pumpenung.

================================================

I baha dedua puikang ko gawe matedu. I baha ketanae su koto dingkalreng su wiwihe apeng tampa i puikang muliwua. I baha maulri akalre, kute lai matingkai si gawene. I puikang bue yanu komalrondo-londo naunge dingang malruase. Maeluge mugeli bageange su apang manga gawene. Tala mumile mugegawe. Puikang orase e bedang tewotonge mawi mubiahe su tanah, mambeng haruse pubiahe su ake. Baugu niseding i baha. Puikang mahirupe maning we malrongge kakanoae su wowong tanah, kute ko pung kasahawue kamageng mutetandung su dalrung sasi. Dingang lai puikang ko marajing muhalre. I baha ho lembie nalrema su koto kalu, maning tiukang u bahe, mang ketikie. Kamageng tiukang u timuhe, nau baha manawo bou koto kalu. Su tempong horo, bengkile baha ko maitung kere pisine..... Hahahahaha.

Pia sihelo i baha limintu bou koto kalu dingkalreng su wiwihe apeng. Baha nuhawu si puikang musuang busa. Engkung i baha, boete kedua mutetandung musuang busa. Kamageng kau makasuang busa mapia buane, i kau botonge mawi su dulunge, kamageng tala, i kau mambeng katana su laude. I puikang nepulu. Entae gawe, kuing i puikang. I baha nengare u tampa pusuangeng busa. Sie namarenta si puikang tadeae penuang busane pakarau dala su kele'u bulude, marau bou apeng. I baha baugu uage, nemile munuang busane su sebu lua su wiwihe apeng, tadeae marani tehungang bou koto dingkalreng. Nau ko takoae sarang simpung u benga busa timuwo bou sasuang i baha. Dala su keleu bulrude, kebi sasuang i puikang simahensong masidada tuwone, nubua delrelrabo buane. I baha nakasilo busa i puikang timuwo masidada, mangkete malruase naung i baha....:)

Nudatingke orase busa seng nasasa. I baha tanae nutingkasake sarang i puikang. I baha nuhabare si puikang, busa sesuange seng kahorokang paniki kamageng tala ligha i alrakeng orase ini. Nau mambeng haruse ligha pakaghising mehono bageang kedua. Engkuing i puikang, kate baha, ko dudato apa teghalre'u? Dala e ko sasuangku, beline sesuang kedua. I baha tala neilang akalre, nilokene i puikang, e kesingka ko kau, matangelo ne seng kasedae, kedio lainge paniki seng mengalra buang busa ko masasa e. Entake ligha tarai kedua. Hedo ia mungawi busa, kau pengampalre su laese, ia mulentu bageang'u. Nau bageang himotongange bageang'u.

Nataraike dedua bawelo e sarang u bele'e. I baha malrinti singkalrendi dingang su koto busa. Apa nariadi? i baha seng kepungintae sisane. Nenginta simbua, nenamba simbau, nusau simbua, nenamba derua. Nasue buane. Pisine nilentune su gawene, teghuang u laese busa. Nukalrianggang i baha, sarang talanakatahendung busa e ko belrine u saghede nusuang, maning be sie nuhawu si puikang. Nau sarang buang busa nasue, i puikang bawa kepungampale lentu e. Apang ko i lentukang baha ketang pisine. Baugu seng nahutung, i puikang sasae nungalra wase, nenutung wase manandu sarang nahamu. Pase ukure nahamu, i puikang tarai nutingkerani sarang laese busa ko niawikang i baha. I puikang mang kedoronge bageange. Sudewe bageangku wue baha? Karea tingkai i baha, nituadenge u bengkile maitung e si puikang. Pase-pase natuade, nehindo dingang u wase mahamu nisungki i puikang sarang bengkile i baha. Nau baha nanawo bu koto busa.I baha nuparadingki kadeae ake gunang mupakateno bengkile seng himena karea putung. Tala nakarea tampa pia ake e. Naneta bou e, bengkile baha nakoa mahamu, i puikang nakatana su dulrunge, nengganti arenge nakoa pumpenung.


BAHOA VS KOMANG


Pia sihebi su tempong bulrang limangu, Bahoa mudorong si komang mutetandung tumalrang. Tampa putetandungang dedua i teta bou apeng u Pehe, mahepuse su apeng u Tanaki.

Bahoa lehe'e manandu, temboe kadio, tatela'e mawenahe, nau masahawu tumedehe. Ho i komang pirua, pia piklurange mabeha, awae kadio, dumaleng ketewe humomang. Bedang i dorongang i bahoa mutentandung. I bahoa mesingka wadange makauntu baugu pia tatela'e. Kerene lai i komang, mesingka ko tala makaroka tatedehang i bahoa.


Ho pondolre dudato, i komang nengire: boete bahoa kedua mutetandung. Ketang i'dorongang si kau, apa bue eka'e kamageng ia makauntu? enkung i komang.

I bahoa nutaragegese lege.....
wuahahahahahaha..... lempang u lempang malrongge kere, ko ta'makalriu si sia. Mambeng ia mudating himotongange.

Naremase i komang.

Nasehu e dudato i Komang dedua Bahoa.
Manga ringang i komang nakaringihe dudato marehe dedua. Nakasilo obote i bahoa. Nau hebi e, apang komang seng ta'nutiki. Kebi lawo kadeae tampa gunang mukimbuni. Apang komang, nudelreantehe su lohang batu, su kanandu apeng Pehe sarang nudating apeng u Tanaki.

Sire ko pendang malrongko; nu'singkenaung.....
Sire ko pendang lome; nu'senggighilang....
Sire ko pendang simpoho; nu'pesesimbuawusa....

Medoka u obote
Medoka u umboge
Dingang u pudarame,
dingang u simpendang,
dingang u kapapande,
dingang u kasasana naung,
komang nasehu nutetandung.

Putetandungang seng ni teta.... bou apeng Pehe sarang nudating apeng Ondong, bou kinoang, i bahoa mang kepukuine si komang. Apang sie mukui, i komang su kihoroe sumimbahe.... I bahoa nubalrikekase mutingkahoro. Pelrinengke seng nudating apeng u Laghaeng, sau e bahoa seng salra lrupa nukibalo; Komang, seng suapa i kau? Engkung i komang, ndaong ia bahoa, ene su tengonu. I bahoa sau nenamba masahawu timela. Nudating ke sie su apeng u Mahuneni. Tatelae seng temang mapedi baugu napalriu masahawu menginsomahe anging.

Napelo su apeng Kapeta, i bahoa nate nalupa.
I komang seng tilahe narenta su apeng Tanaki dingang naung malruase.
Baugu sire nudalahiking sudalrung u pudarame. Kebiahe su dalrung u pendang Malunsemahe.

Selasa, 05 Juni 2012

SEJARAH MAKALEHI MAWELOGANG

Ketika itu Pulau Makalehi belum punya nama dan tidak berpenghuni, di sebuah lokasi di tepi pantai yang menghadap ke barat (sekarang disebut SOA), tumbuh sebatang pohon kenari (lehi) yang sangat besar dan tinggi. Penduduk Siau sering melaut mencari ikan ke pulau ini dan para nelayan Siau sering beristirahat di bawah pohon kenari itu. Tidak jarang banyak yang berusaha menebang pohon ini, namun aneh tidak bisa tumbang, setiap kali ditebang, luka bekas kapak pada pohon itu hilang tak membekas atau kembali seperti semula, namun nelayan Siau tidak putus asa. Mereka tetap berusaha untuk "makahaka lehi" (menumbangkan pohon kenari) sehingga setiap orang yang pergi ke pulau itu dengan tujuan menumbangkan pohon kenari itu selalu berkata "boete kite sesae makalehi (makahaka lehi)".

Akhirnya suatu saat pohon itupun tumbang dan orang-orang yang berhasil menumbangkannya disebut: Sire ko MAKALEHI yang berarti mereka yang berhasil menumbangkan pohon kenari. Demikianlah sampai saat ini pulau disebelah barat Siau ini disebut MAKALEHI, dengan nama sasahara MAWELOGANG yang berarti isi kenari yang tidak hancur saat ditumbuk atau dibelah, alias LEHI BELOGE atau LEHI WELOGE.

SEJARAH TATAHADENG

Tulisan ini dikutip dari catatan lepas Kepala Kelurahan Tatahadeng, Ifferson Kabuhung.

Konon pd zaman dahulu para leluhur masih menganut kepercayaan animisme yaitu menyembah para dewa dgn upacara ritual yg disebut PAKUNANG yaitu upacara penyembahan dgn mengorbankan seorang putri/dara remaja. Seiring dgn perkembangan zaman dan peradaban kebiasaan mengorbankan putri remaja diganti dgn menggunakan batang pohon pisang kemudian berkembang seterusnya diganti dgn Kue Tamo.

Pelaksanaan ritual adat tersebut sebelum mempersembahkan korban adlh diawali dgn ritual memberikan wewangian (bhs. Siau Melanise) terhadap korban dan upacara ritual ini dilaksanakan secara rutin baik itu dlm rangka menyembah dewa terlebih ketika dlm menghadapi masalah serangan dr pihak luar/musuh.

Konon pula daerah/tempat yg sekarang adlh Tatahadeng dahulu kala adlh hutan yg terbentang mulai dari pesisir pantai dan kira-kira thn 1500 M bangsa Philipina yg berasal dr Mindanao yg oleh penduduk pd waktu itu disebut Mangindano datang di daerah Sangihe Talaud sampai ke Siau, dimana mangindano ini datang merajalela merampok harta milik penduduk dan tidak segan-segan juga membunuh. Hal tsb membuat penduduk terutama yg berdiam di seputaran pesisir pantai tetap waspada menjaga kemungkinan dgn tekad apapun yg terjadi harus ditangkis/dilawan dgn tenaga dan daya.

Untuk lebih meyakinkan penduduk mengantisipasi serangan, para tua-tua atau pemimpin mengajak penduduk memohon ridho para dewa dgn mengadakan upacara ritual PAKUNANG sebagaimana disebut di bagian awal. Putri/dara remaja sebelum dikorbankan diawali dgn memberikan wewangian (MELANISE) dan lokasi atau tempat pelaksanaan ritual MELANISE disebut DALANISANG yg sekarang ini lokasinya berada di jalan belakang pertokoan (toko Abadi dll) serta kompleks SDN Tatehadeng, juga menjadi nama Lingkungan 1 (Dalanisang) Kelurahan Tatahadeng dan sering pula dipakai menjadi nama kesebelasan/klup sepakbola Kelurahan Tatahadeng. Lokasi ritual PAKUNANG ini karena berkembangnya penduduk dan peradaban sempat berpidah tempat ke Darunu/Kawolahe sekarang ini adlh Rt.01 Lingkungan V Hekang Kel.Tatahadeng. Sesudah ritual Melanise dilanjutkan dgn memotong korban, dan tempat pemotongan korban disebut "PANANEHADENG"

Konon pula pd waktu itu para tua-tua/pemimpin mendapat ilham dari para dewa dlm menghadapi/ menghalau musuh yaitu Mangindano, mereka mengatur barisan berjejer disepanjang tepian pantai dgn menyelipkan bunga/kembang cepatu (bhs.daerah Buhanga) berwarna merah tua dibokong/pantat dan ketika mereka melihat armada musuh sedang menuju teluk Ulu maka secara serentak mereka balik belakang dan bokong/pantat yg terselip kembang cepatu tersebut dipamerkan kpd musuh, ketika musuh melihat hal tsb melalui teropong mereka sangat ketakutan sekaligus putar haluan meninggalkan daerah sasaran kembali ke laut lepas dan mulai saat itu mangindano ini tdk pernah kembali lagi menjarah.

Seterusnya seiring dgn perjalanan waktu tmpt PANANEHADENG asal kata TEHADE oleh para tua-tua setempat diadopsi menjadi nama kampung yaitu TATEHADENG yg artinya "MEMBERIKAN KEPASTIAN YANG MEYAKINKAN". Dan seterusnya seiring dgn perubahan status dari Desa menjadi Kelurahan Nomenklatur berubah sedikit disesuaikan dgn SK Mendagri TATEHADENG menjadi TATAHADENG pengertiannya tetap tdk berubah dan menjadi nama Kelurahan sampai saat ini.
Dari thn 1910 - 1980 berstatus sebagai Desa/Kampung, sedangkan pengalihan status menjadi Kelurahan terjadi pd thn 1980 dimasa pemerintahan Bupati HADI SUTRISNO sampai sekarang.

Urutan Kades/Lurah sejak thn 1910 s/d sekarang :
  1. Frans Bartol Manalip 1910-1915
  2. Eduard Dauhan 1915-1926
  3. Jacobos Janis 1926-1930
  4. Samuel Kansil Salindeho 1930- 1942
  5. Philipus David 1942-1950
  6. Jacobus Sule Gonggalang 1950- 1972
  7. Alfonsius Salindeho 1972-1973
  8. Elias Laheba 1973-1980
  9. Karunya Loleng 1980-1986 Lurah.
  10. Elias Laheba 1986-1988 Lurah.
  11. Max Tantu 1988-2008 Lurah.
  12. Melva Hinondaleng,S.STP 2008- 2009 Lurah.
  13. Ifferson Kabuhung 2009 s/d sekarang. Lurah.

(dihimpun dr berbagai sumber, terutama para tua-tua adat di Kel. Tatahadeng)
Tdk menutup kemungkinan saran/masukan dr berbagai pihak yg tahu asal usul dr Kelurahan Tatahadeng sangat diharapkan utk melengkapi sejarah Kelurahan tercinta ini, semoga!

Senin, 02 Mei 2011

SAGU PEJABAT SANGIHE: Antara Harapan dan Kenyataan

Suatu hari, Boyke kawanku seorang wartawan mengalami nasib kurang beruntung. Isterinya mengeluh tak punya uang belanja. Esok harinya akan diselenggarakan persekutuan ibadah kelompok di rumahnya. Mereka sedang membahas persoalan klasik semua rumahtangga itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Di layarnya tertulis nama pejabat asal Sangihe yang pernah dibantunya dalam pencitraan diri. Boyke bergegas menekan tombol hijau dengan sejuta harap, akan mendapat jawaban dari pergumulan isterinya.

Dari balik ponsel itu, suara pejabat terdengar tak sekedar menyapa selamat siang atau menanyakan keadaan Boyke. Justru terlebih dahulu Boyke ditawari sebuah niatan baik.
Halooo kawanku Boyke
ada yang bisa saya bantu?

Boyke terperangah seakan-akan tak percaya.
Ohhhh bapak
Ada bae-bae ini pak!....
meski hidup ini selalu saja ada pergumulan.
Sebagai teman, sudah seharusnya saling menyapa, io toch pak?
(Boyke pura-pura bertanya padahal dia tahu jawabannya).

ok kawan.... apa pergumulanmu?
tanya pejabat penasaran sekaligus iba.

Begini pak.... tadi saya dan istri sedang membahas soal ibadah besok
Istriku bilang dia sudah tak punya cukup persediaan uang.
Jangankan untuk belanja kue, buat belanja sagu pun uangnya tidak cukup.
Begitulah pak duduk soalnya!
Terasa lega perasaan Boyke setelah menguatarakan pergumulannya itu.

Baiklah kawan....
Saya akan bantu ibu ya....
Saya akan kirim "sagu" sebentar sore
Lalu HP sang pejabat mati mungkin karena gangguan jaringan.

Tiba-tiba disusul SMS:
Kiriman saya titipkan pada ABK (Anak Buah Kapal).
Namanya PK...alias Piter.. ingat baik-baik ya?
Besok jam 4  subuh jemput di pelabuhan Manado
Maaf tadi hp saya mati karena jaringan kurang bagus. 

Spontan respon Boyke membalas:
terimakasih banyak pak.
kebetulan PK teman sekelas saya waktu SMP dulu...:)
tanpa bantuan bapak, saya nyaris dibunuh isteri,... katanya basa-basi mereplay pesan masuk sang pejabat.

Ihwal percakapan Boyke dengan pejabat itu diteruskan kepada isterinya. Isteri Boyke berharap-harap cemas. Kecemasan itu sejenak ditularkan kepada Boyke dengan melontar pertanyaan; kage lei dia kirim sagu betul no????
Boyke sontak mengernyitkan dahi kanannya sambil berkata, mati aku.....!!!

Tentunya harapan masih saja menjadi modal dasar yang kuat bagi Boyke yang tidak pernah pesimis itu. Seyogyanya bukan sagu yang sedang kami bicarakan. Melainkan sagu dalam bentuk lain. Sagu yang sudah diversifikasi menjadi kertas-kertas merah anti air, harapnya dalam hati. Demikianlah Boyke memulihkan pesimisme isterinya dalam pikirannya sendiri menjadi sebuah optimisme yang selalu mewarnai hidupnya ketika menyikapi semua persoalan yang menyeruak dan menghantam dirinya.

Bukanlah Boyke kalau kehilangan semangat hidup. Pria seribu akal itu memprogram alarm ponselnya di pukul 03.00 wita. Hingga dia benar-benar bisa tidur nyenyak laksana pangeran tanpa banyak pikir tentang kekuatiran hari esok. Begitu pula sepeda motor vespa terbitan tahun 1930 miliknya sudah dipersiapkan malam itu. Tepat pukul 03.00, alarm ponsel membangunkannya dan ia bergegas cuci muka. Perlu setengah jam menuju pelabuhan Manado. Tiba di pelabuhan, Boyke menelepon Piter K. Piter K menawarkan dirinya akan mengantar kiriman pejabat itu langsung ke rumah Boyke, tetapi Boyke menolak karena dirinya sudah berada di dermaga menanti dengan sejuta harap. Beberapa saat diperoleh kabar, kapal Piter k sudah masuk ke dermaga dan Piter K memintakan Boyke untuk naik ke dek (anjungan kapal).

Momok tentang keraguan isterinya semakin sirna tatkala mendengar permintaan Piter K untuk naik ke anjungan. Pikir Boyke, jika sagu tidak mungkin diletakkan Piter K di anjungan. Ini pasti sagu yang kuharapkan, bukan sagu versi isteriku. Begitulah perdebatan infokus terjadi dalam otak kanan Boyke. Sejauh ini, semua proposisi mengarah pada hipotesaku yang diterima, bukan hipotesa istriku.... bathin Boyke berkata demikian sambil terus melewati anak-anak tangga kapal dan menemui Piter K yg duduk sambil meneguk kopi hangatnya.

Terjadilah percakapan selama satu jam dengan kawan lamanya yg baru bersua.
Setelah itu tiba pada substansi.
Piter K berkata, mari jo torang dua ke bawah.
Mo ambe itu kiriman di kamar mesin.      

Mendengar ajakan seperti itu, Boyke terasa ingin sekali menampar keras muka Piter K.
Boyke hanya dapat berkata lirih dua huruf.....io
Nampak di samping kamar mesin, beberapa bika sagu berukuran tinggi kurang lebih 75 cm dengan diameter 25 cm.
Sagu yang sangat banyak,.... kata Boyke seolah-olah berpikir mencari solusi bagaimana membawanya pulang.
Yupzzzz, bersyukurlah kawan kau mendapat rezeki pagi-pagi buta begini, sahut Piter K tak memahami kecewa Boyke.

Pada situasi semacam itu, Boyke masih punya harapan.
Sambil terus mengulur waktu, Boyke melontarkan beberapa pernyataan yang mengarahkan agar Piter K mengatakan bahwa masih ada kiriman lain berupa harapannya. Tiga pertanyaan sudah dilontarkan seperti kecepatan peluru roket yang membuat Piter K sibuk menjawabnya. Pertanyaan pertama dijawab dengan mudah, pertanyaan kedua dijawab dengan agak rumit dan pertanyaan ketiga dijawab to the point (polos) oleh Piter K.........."Tidak Ada Kiriman Uang".

Ok..ok...kawan, jangan marah. Saya hanya tidak percaya saja kalau pagi ini akan segra ada tragedi, kata Boyke.
Piter K hanya memiringkan kepalanya ke kiri pertanda tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Boyke. Dengan susah payah Boyke memikul sendiri bika sagu ukuran besar itu. Dimuat ke motor vespa tapi tidak bisa sehingga mengharuskan Boyke mengalihkan bika sagu itu di angkot.

Boyke pulang ke rumahnya dan menyuruh beberapa anak-anak untuk menjemput muatan bika sagu di pertigaan kampung, tempat biasa mobil angkot berputar kembali ke stasiun. Boyke sibuk merayu isterinya untuk memberikan harapan baru. Harapan yang tidak pernah habis. Seperti harapan dari kisah ini. 

Apakah yg penting dipelajari dari pengalaman pasutri ini?
Kearifan dalam menyikapi dinamika hidup.
Boyke sangat menghargai sebuah kepolosan.
Entah manis, atau pahit.@@@

Selasa, 07 Desember 2010

SOA LAGHAENG

Su tempong tamai naliu, su orase penetakenge, soa Laghaeng beline kere soa tu tempong i. Soa su tempong horo pelo e dade su saghe. Soa dingang apang bale su orase i su tempong tamai ko u udae. Areng soa e bedang takoae, kute seng mauli bale taumata metatana.Nau sutemangku mapiang nisego "Soa Tebe".

Su simbeka dala pia bulude telumbau. Bulude labo arenge Bulude Megembalo, tuarine su simbeka bou kuaneng Soa Tebe, arenge "Bulude Gumahe". Su tarorane pia bulude kadio nakoa kerelagung sara Megembalo dingang Gumahe, arenge "Bulude Peliang". Su lengehe simbeka kuaneng Bulude Peliang arenge Lengehe Matei, su simbeka kuihi Bulude Peliang arenge Lengehe Talanggo. Su alung Bulude Megembalo pia tampa putanakeng taumata orase i, arenge Pahempang.

Soa Laghaeng Orase Samuri

Nulagha Selong
Pia sihebi, lua balu (kuing kite orase i "tsunami") mediokang bale laboe, nundopele soa tebe. Lua naawi su wowong soa sarang nudating alung u Bulude Magambalo dingang alung Bulude Gumahe. Takoae nakauli arau nakaweke su manga pulung taghuang Soa Tebe mensang pirangketau taumata nate karea lua balu e. Ketang ho nikaweke sire; kebi taumata su soa tebe, nengaling putanakeng sire nasoho dala su alung laede Bulude Megembalo.

Su tempong sire kepungalinge bawaang sire sarang tampa buhu hebi madalung e, pia singketau nakasilo kina selong geghuwa katedehe su wowong lua wene napasi mumuse su laese busa. I anu nakasilo e kimaka beline masikome, wuade: "Kina selong ndong natuhe mumuse su puung u wusa...". Taumata mauli kepuhengke darotong sire lawo kimaka lainge, kuing sire nehindo: "Laghaeeee...." . Wene nae naelo, kina selong labo e nilagha sire singkampung gunang kaang sire su tampa buhu. Naneta sihelo e, tampa buhu niputanakeng sire nisego: Laghaeng.

Sire nasalamate bou lua balu e nakoa yupung simbotongange tau Laghaeng. Narena, tau Laghaeng naka-nupalahana mauli. Manga ana sire nukoa bale su wanggile Bulude Gumahe, su simbeka timuhe bou Laghaeng, su tampa nisego sire: Bumbahu. Sengga ho numeti bale dasi su wowong bulude Pahempang. Laghaeng dingang Bumbahu nipusara u Bulude Peliang. Kamageng tau Laghaeng tarai sarang Bumbahu, pakatote dumaleng su soa Peliang, baugu soa Peliang tampa maspoke. Kumbahang mugara. Kamageng mugara, Bulude Peliang i kaondolang u batu. Kerene beke'e, soa Peliang nisego Peliang baugu peli sumahe mugara su tampa ene. Pusasara soa Peliang talamakapubesu pudalahiking tau Laghaeng dingang tau Bumbahu bou tempong horo sarang tempong samuri i. Haki we seng pia sasuling sire;

Laghaeng dingang Bumbahu
Kere taumuhari.
Laghaeng nipuhana horo
Bumbahu hedo samuri.

Maning i'tentang marau
Tamailang bu naung
Kere anau simbau
Gawe takawulenang

Maning su'soa marau
Tamailang bu naung
Maning meliku dunia
Laghaeng takawulenang

Soa Bumbahu & Bulude Gumahe

SaBat LaMa
Pai su simbeka Soa Laghaeng, manga duangkilo rau'e pia tampa areng'e Sanumpito. Tampa simbau i nusasempu dingang kampung Peling. Beke tau maghagurang su Sanumpito mauli i kareakeng salehe sanumpito (burung gaheda). Kere lai pai su simbeka timuhe pia tampa putanakeng areng'e Batusenggo. Su Batusenggo ko pia batu labo mesulung kere pamo malapasi senggo, e haki nisego sire u Batusenggo. Su Batusenggo pia tampa putahasimpalang, arenge: Sawang (tampa pia batu malapasi senggo) dingang Lakehe su pondole kampung. Dasi su wowong u polohe pusemakeng u Bulude Megembalo dingang u Bulude Gumahe, pia tampa putanakeng lai, areng'e Makoa.

Pudalahiking tau Sanumpito, Batusenggo, Laghaeng, Bumbahu, Batusenggo dingang Makoa kere pudalahiking singkawinang. Maning su tampa marau, kamageng taumata bou lima tampa i nesombang, sene pia komolang sire. Su Bitung seng pia Komolang (basa: Rukun) arenge SaBat LaMa (kenanduae: Sanumpito, Batusenggo, Laghaeng, Makoa). Komolang SaBat LaMa i seng nakoa mauli hale mapia su dalung kehi pudalahiking ana u simbau. Simpoho kere pusesambua wusa. 

Tonggeng Laghaeng Orase ini

Senin, 15 Februari 2010

GUMANSALANGI


Menurut cerita para orang tua Sangihe, pada tahun yang belum pasti sekitar 1300 Masehi di utara kepulauan Satal pada suatu tempat bernama Kotabato di pulau Mindanao terdapat seorang putra raja yang bertabiat buruk. Namanya Pangeran Gumansalangi. Karena kejahatannya, raja mengasingkannyai kedalam hutan. Di sana ia menyesali perbuatannya dan meraung-raung memohon pengampunan entah kepada siapa karena tak satupun manusia yang mendengarkannya. Raungan tangis Pangeran Gumansalangi terdengar oleh Raja Khayangan dan mendorongnya turun ke bumi melihat langsung keberadaan Pangeran Gumansalangi di tengah hutan belantara menangisi dosa seorang diri.

Raja Khayangan kemudian kembali ke negerinya dan menanyakan kesediaan putri-putrinya untuk pergi ke bumi menemui Pangeran Gumansalangi dan segenap pergumulannya. Putri bungsu menerima tawaran raja khayangan sedangkan kakak-kakaknya menolak. Berangkatlah si bungsu ke bumi dengan menyamar sebagai perempuan berpenyakit framboesia akut. Bau penyakit yang sangat busuk itu membuat penasaran Pangeran Gumansalangi sehingga dicarinya asal bau itu. Ditemukan di suatu tempat seorang perempuan yang sekarat. Pangeran Gumansalangi mendekati perempuan itu dan tidak sedikitpun merasa jijik. Lantas diajaknya perempuan itu untuk menginap di gubuknya.

Setelah tinggal beberapa hari lamanya, perempuan itu menghilang. Ternyata ia kembali ke khayangan menemui ayahnya dan menyampaikan laporan perubahan sifat Pangeran Gumansalangi selama dalam masa penghukuman itu. Si putri bungsu itupun dipanggil ayahnya dan diberikan tugas untuk menjadi isteri Pangeran Gumansalangi selama hidupnya di bumi. Putri itu diberikan nama Putri Konda.

Turunlah kemudian si Putri Konda ke bumi dengan paras yang amat cantik dan bau harum semerbak untuk menunaikan tugasnya menjadi isteri Pangeran Gumansalangi. Di sekitar sebuah danau Putri Konda sedang mandi membersihkan dirinya. Mencium bau harum yang semerbak itu, Pangeran Gumansalangi menelusuri asal muasalnya. Ketika dilihatnya Putri Konda sedang mandi, maka Pangeran Gumansalangi tidak sadarkan diri. Sang pangeran Kotabatu terjatuh pingsan menyaksikan keelokan Putri Konda.

Kemudian Putri Konda memetik kembang melati yang bertumbuh di belukar sebanyak tiga kuntum, lalu direndam kedalam air yang ada di telapak tangannya dan dipercikannya ke wajah Pangeran Gumansalangi. Seketika pangeran siuman. Lalu pangeran yang berubah sifat itu memohon maaf kepada Putri Konda yang telah merepotkan diri untuk membangunkan dia dari pingsannya. Putri Konda membalas dengan senyuman manis dan berkata sudah kewajibannya menolong pangeran Gumansalangi dan ditugaskan untuk menjadi isteri pangeran Gumansalangi. Berkatalah Putri Konda: "aku dikirim oleh raja Khayangan untuk membebaskan engkau, karena engkau telah berubah sifat dan menjadi orang yang baik. Kita tidak boleh tinggal di sini, melainkan harus mencari tempat lain yang nanti akan ditunjuk berdasarkan beberapa tanda. Hujan akan turun dengan amat deras, dibarengi kilat dan gemuruh petir dan kita akan tinggal di sana. Abangku, Pangeran Bawangung Lare akan menjelma menjadi naga yang akan terbang menelusuri setiap tempat yang hendak kita kunjungi".

Mendengarkan hal itu, sang pangeran langsung bersujud di bawah kaki Putri Konda dan berkata: "tak selayaknyalah hamba menjadi suami Putri Khayangan yang sangat elok parasnya, karena hamba hanyalah seorang pria bertabiat buruk". Putri Konda menjawab: "Raja Khayangan sudah menentukan saya untuk menjadi isterimu seumur hidup". Maka sejak saat itu merekapun resmi menjadi suami isteri.

Setelah itu terjadilah apa yang dikatakan oleh Putri Konda sewaktu pertemuan mereka di danau itu. Sebelum mereka berangkat, pertama-tama naga (Pangeran Banwangun Lare) dan kedua pasang suami isteri itu terbang mengelilingi langit Kotabato pada malam hari. Penduduk Kotabatu menjadi ribut dan gelisah karena mereka menyaksikan ada yang mengkilat di langit. Tua-tua di Kotabato menenangkan warga dan mengatakan bahwa yang mengkilat yang mereka lihat itu adalah seekor naga sakti yaitu kendaraan yang dipakai oleh raja-raja. Perkataan ini membuat penduduk tenang.

Kemudian ketiganya berangkat ke arah timur dan sampailah di sebuah pulau bernama Balut atau Marulung. Di tempat ini mereka tidak memperoleh tanda-tanda. Mereka meneruskan perjalanan dan tiba di Tagulandang dan tinggal untuk sementara disana. Kemudian mereka berjalan ke gunung Ruang, namun ketika mereka sampai di puncak Gunung Ruang mereka juga tidak menemukan tanda-tanda. Maka turunlah mereka ke Siau dan pergi ke gunung Tamata. Mereka tinggal di situ beberapa malam. Di sana juga mereka tidak mendapatkan tanda-tanda seperti yang dipesan oleh Raja Khayangan.

Lalu mereka pergi ke sebuah pulau yang lebih besar yang disebut Tampungang Lawo. Di sana mereka pergi ke gunung Sahendarumang. Sesampainya di puncak Sahendarumang mereka diliputi awan dan kabut yang kemudian berubah menjadi hujan deras. Kemudian kilat dan guntur menggeleggar memekakan telinga selama tiga malam lamanya. Dan satu-satunya yang dapat dilihat dari bawah adalah kilat. Bunyi guruh selalu kedengaran dari bawah. Setelah tiga hari mereka berkesimpulan bahwa disitulah tempat tinggal baru bagi mereka.

Kemudian mereka turun dan pergi ke arah timur Tampungang Lawo mengikuti aliran sungai Balau. Di sana mereka dielu-elukan oleh penduduk. Pangeran Gumansalangi dan Puteri Konda dimintakan duduk di lengan orang-orang lalu diusung dan diagungkan. Tempat itu diberi nama "Salurang" artinya "pengagungan". Oleh penduduk setempat, nama Pangeran Gumansalangi digantikan menjadi "Medelu" yang artinya "bagaikan guntur" dan Putri Konda dinamakan "Mekila" yang berarti "bagaikan kilat". Akhirnya mereka berdua diangkat menjadi raja di Kerajaan Tampungang Lawo (Sanger Besar) sebagai raja pertama Tabukan.

Pada masa tuanya Pangeran Gumansalangi kembali ke Kotabato dan mangkat disana. Sedangkan tampuk kekuasaan kerajaannya diserahkan kepada anaknya yang bernama Melintang Nusa. Melintang Nusa menikah dengan Putri Mindanao yang bernama Putri Hiabe anak perempuan dari Raja Tugise. Sedangkan adiknya bernama Meliku Nusa pergi ke selatan dan menetap di Bolaang Mongondow dan menikah dengan Putri Mongondow yang bernama Menong Sangiang. Dengan demikian Melintang Nusa menjadi raja Tabukan yang kedua setelah Gumansalangi (Medelu).

Pada masa tuanya Melintang Nusa kembali ke Mindanao dan menghembuskan nafas terakhir di sana. Ia digantikan oleh putranya Bulegalangi. Anak-anak Melintang Nusa yang lain tersebar ke seluruh Sangir. Anak perempuannya bernama Siti Bai menjadi isteri Balang Naung, Aholiba menikah dengan Mengkang Nusa dan hidup di Tariang Lama. Putranya Pahawongseke tinggal di Sahabe yang sekarang ini menjadi Soa Tebe. Di sana ia membangun pemerintahan sendiri dibantu anaknya Makalupa, Ansiga dan Tangkuliwutang. Mereka semuanya menjadi pendekar Salurang yang gagah berani. Ia juga mempunyai putri bernama Tolongkati yang sangat berani sehingga dijuluki "Bawu Mahaeng" atau perempuan ringan. Putra dari Tangkuliwutang bernama Makaampo yang kemudian menjadi pejuang Sangir yang gagah berani yang berhasil mempersatukan Sahabe dan Salurang.

Sedangkan Pangeran Bawangun Lare (menjelma Naga) dikisahkan melanjutkan perjalanannya ke timur hingga ke Talaud dan membangun rumahnya di Porodisa di pulau Kabaruan dan naik ke puncak gunung Taiang. Di sini Pangeran Bawangun Lare menikah dengan Bokimawira, sehingga tidak heran di suatu tempat di pulau ini mereka menamakan Pangerang karena disini masih terdapat bekas ular naga yang menjalar yaitu tempat dimana Pangeran Bawangun Lare menjelmakan dirinya.