Senin, 26 Agustus 2013

SAKEHA



Di pantai tempat yang sangat baik untuk peristirahatan bagi pengembara, tempat yang dalam bahasa Siau disebut sebagai “Mangilaghaeng”. Dengan kata lain Mangilaghaeng berarti tempat yang baik untuk beristirahat. Pantainya berpasir, ditumbuhi pohon-pohon besar seperti pohon dingkalreng, penimbuhing dan bitung yang akar-akarnya timbul di permukaan tanah dan menggelantung, saling kait mengait menyerupai gua yang lengkap dengan untaian akar serabut. Serabut akar itu seringkali digunakan penduduk sebagai ayun-ayunan. Sedangkan orang-orang dewasa dapat melepas lelah setelah melaut atau sesudah berkebun, membaringkan diri mereka di atas hamparan pasir, di bawah rindang pepohonan raksasa yang berjejer itu. Bahkan sampai pagi. Sungguh indah suasana kala itu.  Itulah gambaran landscape pantai Laghaeng hingga era 1980an.

Ditelisik jauh ke belakang, yaitu dibalik sejarah berdirinya kampung, di sebelah selatan perkampungan terdapat sekelompok orang yang berasal dari Kampung Makoa. Orang-orang itu menetap sementara waktu, karena keperluan melaut. Tempat yang mereka tinggali dipenuhi pohon sagu yang disebut baru atau bahu di pesisir pantainya. Sedangkan orang-orang membangun daseng mereka di tempat yang agak tinggi. Tempat itu dinamakan Bowong Bahu. Di kemudian hari tempat itu disebut Bombahu atau Bumbahu

Di Mangilaghaeng hiduplah sepasang suami isteri bernama Sakeha dan Siondaľi dengan beberapa keluarga merupakan keturunan Gehiwu yang awalnya menetap di puncak Bukit Megembalo. Sakeha dikenal sebagai pria yang memiliki kekayaan melimpah tetapi rendah hatinya. Isterinya, Siondaľi wanita yang amat cantik, memiliki rambut lurus sampai ke tumit dan kulitnya putih mulus, tidak heran kecantikannya memikat hati banyak orang. Dalam hal bergaul, Sakeha tidak memilih sahabat, ia bergaul dengan siapa saja karena semua orang dipandangnya baik. Sungguh pikirannya selalu positif. Sikap itulah yang membuat putri Siondali takluk dan mau dinikahi oleh Sakeha. Kedua sejoli itu hidup damai dan sejahtera, penuh kearifan dan kekayaan materi. Sakeha membuat sebilah belati dari emas murni dan isterinya mengoleksi ratusan barang-barang emas, seperti kalung, anting, gelang, serta perhiasan-perhiasan lainnya yang diletakkannya pada sebuah piring putih (pinggang uhise).

Sementara itu di Bumbahu hidup sekelompok orang yang seringkali turun ke pantai Mangilaghaeng untuk melepas lelah. Sakeha yang bertubuh kekar itu dijuluki “bahani” dan berteman karib dengan Mangintari dari Bumbahu. Mangintari sudah lama mengidap penyakit kulit sehingga tubuhnya bersisik. Dalam persahabatan kedua lelaki itu Mangintari kemudian merasa terpikat hatinya melihat kecantikan Siondal’i.   

Sejatinya Sakeha dengan belati emasnya, mampu menarik murninya cinta Siondali. Sebaliknya, Mangintari merasa jatuh cinta pada Siondali meski hanya bertepuk sebelah tangan. Mangintari menyusun siasat untuk melenyapkan Sakeha dari muka bumi. Diajaknya Sakeha mencari ikan (mubae) dengan satu perahu didayung bersama.

Ketika hendak melaut bersama, Mangintari mengambil belati emas milik Sakeha kemudian menjatuhkannya ke dasar laut, karena pikirnya, belati itulah yang selama ini menjadi sumber segala kesaktian Sakeha sehingga dengan mudahnya memperoleh kekayaan dan isteri yang cantik. Sakeha kaget melihat perbuatan Mangintari, kemudian bertindak spontan menyelam ke dasar laut mengejar belatinya dengan menggunakan tolu di kepalanya. Sakeha tak sempat membuka tolu yang dikenakannya saat itu.

Sebelum belati emasnya menyentuh dasar laut, belati itu terlebih dulu menancap di ujung tolu yang dikenakan Sakeha, kemudian dirinya kembali ke permukaan dengan belati sakti yang tertancap kuat di tolu-nya.

Sementara Sakeha sedang berjuang keras mengejar belatinya tadi, Mangintari buru-buru kembali ke daratan dan memberitahukan kepada seluruh penduduk di Laghaeng maupun penduduk bahwa Sakeha telah tenggelam ke dasar laut dan dimangsa ikan hiu. Mangintaripun pergi hendak meminang janda Sakeha, si Siondal’i. Mendengar kabar itu, Siondal’I menangis semalam suntuk lalu menolak mentah-mentah lamaran Mangintari.

Ketika subuh datang, Siondali naik ke Pahempang melalui “dal’eng batu” membawa semua harta emasnya yang diletakkan di piring uhise. Dari atas Pahempang ia lalu menangis sekuat-kuatnya sehingga didengar oleh semua penduduk, kemudian membuang dirinya dan seluruh emasnya ke tubir Kampung Laghaeng. Dan hingga kini, tak seorangpun menemukan jasad Siondalri dan harta itu kembali. Dalam tangisnya Siondali berpesan bahwa harta kekayaannya tidak berguna sama sekali, lebih baik dirinya kehilangan emas daripada kehilangan kekasih hatinya yang selama ini hidup bersama penuh cinta. Sejak saat itu dikenallah pepatah Laghaeng “Maning Bulraeng Sindepa, Tamakasulrung Pudalahiking Mapia”.  
       
Padahal, sesungguhnya Sakeha ditolong oleh Hiu raksasa (Tangahiang) dan selama tiga hari tiga malam mereka pergi ke semua nusa untuk menyampaikan kabar sekaligus anjuran perdamaian tentang jasa pertolongan Hiu kepada anak manusia (Sakeha), sehingga seluruh manusia di nusa-nusa sejak saat itu dilarang memburu dan makan daging Hiu. Jika anjuran ini tidak diindakan, maka hukumannya adalah manusia akan dimangsa Hiu, sebaliknya jika anjuran ini ditegakkan, maka manusia akan ditolong dari bahaya di lautan.  

Setelah melakukan misi mulia itu, pada petang di hari ketiga, tiba-tiba pantai Laghaeng dan segala isinya dihantam ombak yang amat besar seperti sedang mengalami tsunami. Ombak itu terjadi karena amukan banyak ikan hiu yang berseliweran dan menggelorakan air laut di pantai Laghaeng. Tsunami itu memporak-porandakan setiap sudut kampung sampai hancur lebur. Begitu banyak ikan-ikan seperti ikan layang dan ikan bergerigi panjang dan tajam (ikan selong) menancap dan menembus batang pohon-pohon pisang milik warga. Warga mengungsi ke kaki bukit Magembalo dan kaki bukit Gumahe. Dalam pengungsian yang mendadak itu, warga mengalami kekurangan makanan dan ikan-ikan yang menancap di pohon pisang kemudian diambil warga untuk dikonsumsi. Sejak saat itu kampung baru yang ditempati warga eksodus itu diberi nama “laghae” yang artinya masaklah.  

Warga Laghaeng yang mengungsi kala itu melihat langsung aksi gagah perkasa Sakeha yang mengendarai Tangahiang dan mendamparkan dirinya di sebuah batu datar yang terletak samping Batu Darisi (batu berdiri). Mulut Tangahiang terbuka lebar setinggi batu darisi itu sembari menakut-nakuti penduduk yang sedang lari tunggang langgang. Sakeha kemudian turun dari punggung Tangahiang dengan melompat ke atas batu datar itu dan menenangkan seluruh warga agar tidak panik. 

Sebagai rasa terimakasihnya pada Tangahiang, Sakeha mencari bunga Manuru dicampur dengan pohon-pohon wewangian lainnya diramu menjadi air wewangian yang dimandikan kepada Tangahiang. Hiu raksasa itupun menjadi betah tinggal di Laut Laghaeng. Tangahiang memberi tanda kepada Sakeha bahwa dalam tiga hari Sakeha tidak boleh mandi di laut.
Sakeha tidak membalas perbuatan jahat yang dilakukan Mangintari terhadap dirinya. Karena jelas tidak dapat menghidupkan kembali isteri tercintanya. Hanya saja, Sakeha telah belajar banyak perilaku sahabatnya yang sudah melakukan perbuatan jahat dan tetap mengampuni dan mengasihani Mangintari seperti saudaranya sekandung. 

Setelah tiga hari yang diisyaratkan oleh Tangahiang, sekelompok Hiu kembali menyerang pantai Laghaeng dan ombak besar menghantam semua yang tinggal di kampung. Pada saat itulah, Mangintari lenyap ditelan ombak dan dimakan Hiu secara mengenaskan.  Sikap patriotik dan ksatria Sakeha ini, menjadi teladan bagi keturunannya di Kampung Laghaeng.

Dalam perjalanan sejarah di kemudian hari, kampung Laghae berubah nama menjadi Laghaeng. Kedua huruf “ng” ditambahkan kemudian pada abad ke 19 oleh Guru Kakalang. Sejak saat itu Kampung Laghae menjadi Kampung Laghaeng. Yang dimaksud dengan Kampung Laghaeng adalah kampung dimana Tangahiang dan Sakeha mendarat. Kampung yang dulunya satu bagian utuh itu, kini terpisah. Warga yang menempati kaki bukit Megembalo menjadi warga kampung Laghaeng, sedangkan warga yang menempati kaki bukit Gumahe yaitu kawasan yang ditumbuhi banyak pohon bahu (sejenis palm untuk membuat sagu), disebut sebagai warga Bumbahu. 

Kedua tempat Bumbahu dan Laghaeng dibatasi oleh satu anak bukit yang disebut Peliang sementara di kedua ujung kampung, terdapat tanjung yang disebut Tonggeng Laghaeng dan Tonggeng Bumbahu, keduanya selanjutnya dinamakan Tonggene. Bukit kecil yang menjadi batas pemisah Laghaeng-Bumbahu menjadi tempat dikuburkannya jasad Siondali dan bukit Pahempang yang tersambung dengan tanjung Laghaeng dimana Batu Darisi itu berada, menjadi tempat dimakamkannya Sakeha. Persisnya, makam Sakeha dapat dijumpai di tempat yang detilnya disebut “tamba” dan Siondali makamnya di “Bowong Peliang”. Peliang sendiri berasal dari kata peli yang berarti tabuh, sehingga Peliang dapat diartikan: yang ditabuhkan. Setiap orang yang hendak berjalan melewati Peliang, dilarang berbicara dengan suara keras apalagi ribut, karena di tempat ini sangat mateling[1].

Sumber Wawancara: George Takalmingan, A Maningide Frens Kampong, Frans Kampong, Martin Lukas,


[1] Sudirno Kaghoo dalam artikel: Kepribadian Malunsemahe: Mateleng, Matelang, Mateling.




Sabtu, 10 November 2012

HENGKENG U NAUNG


Hengkeng U Naung memiliki perlengkapan senjata Tombak Trisula (Alabadiri) dan sebuah Pedang Bara. Ketika hendak berperang, ia mengenakan zirah yang dipintalnya sendiri dari batang sakede.

Jumat, 09 November 2012

PAHLAWAN HENGKENG U NAUNG

Hengkeng U Naung, pahlawan dari Timeno Kiawang Siau lahir tahun 1590. Sejak kecil giat melatih dirinya dengan keahlian bergulat dan tangkas bermain pedang bara pada usia belasan tahun. Di umur 20 tahun berjumpa D'Arras jogugu Ondong menjadi salah satu tentara ahli dalam bidang kelautan.

Tindakan patriotik dilakukan pertama kali setelah dirinya berhasil mendamaikan Maho

nis (Jogugu Ulu) dengan D'Arras (Jogugu Ondong), sehingga Datu Winsulangi mengangkat Hengkeng U Naung menjadi Kontraktor Proyek Pembangunan Armada Angkatan Laut pada tahun 1612. Proyek tersebut tuntas dilaksanakan. Hengkeng menciptakan Jubah Sakti dari Benang Sakede yang tak bisa ditembusi parang bara dan tombak.

Hengkeng U Naung diminta jasanya untuk memberantas tindakan teror Makaampo dan berhasil mengamankan Tampungang Lawo (Sangihe). Setelah itu dirinya beradu kesaktian dengan seorang pahlawan Dagho, Ansuang Killa. Pertempuran keduanya berimbang dan berakhir dengan genjatan senjata karena tidak ada pihak yang kalah.

Dirinya bersua dengan gadis pemain musik Olri di Mahangetang dan menjadi partner hidup sekaligus mitra berperang melawan teroris Onding yang meneror kehidupan rakyat Makalehi. Dengan senandung Sasambo dan alunan musik Olri isterinya, Hengkeng U Naung berhasil mengamankan rakyat Makalehi dari teror Onding.

Pada tahun 1621 Hengkeng U Naung berhasil mengamankan Kabaruan dari kemelut dan gejolak perang saudara di kawasan Porodisa sehingga Kabaruan menjadi daerah kekuasaan Siau. Sikap patriotismenya terus bertumbuh-kembang, membela kaum lemah dan mengejar para Perompak Mangindano ke selatan yang hendak meneror kehidupan warga Minahasa yang kaya raya dengan beras. Usaha perompak merampas beras Minahasa dapat dihalau oleh Sekutu Pasukan Para Walak Minahasa dan Pasukan Kora-Kora Hengkeng U Naung pada Pertempuran Kasuang tahun 1640. Itulah ekspedisi perdana seorang pahlawan yang berjuluk Bawata Nusa ini.

Hengkeng U Naung, atas perintah Raja Batahi melakukan ekspedisi kedua ke selatan untuk tujuan mengejar dan menaklukan semua bentuk kejahatan. Beberapa kerajaan lokal yang berkarakter keras dan menyengsarakan rakyatnya sendiri turut diberi pelajaran. Semisal Raja Makaaloh di Talawaan berhasil ditaklukan pada tahun 1642 dan Angkoka, Raja Singkil yang berhasil ditundukkan pada tahun berikutnya.

Armada Angkatan Perang Kora-Kora dan Bininta Hengkeng U Naung tiba di Leok Buol pada tahun 1645, berhasil menghalau Angkatan Laut Kerajaan Gowa yang hendak menaklukan kawasan Utara Pulau Sulawesi (Sulawesi Utara). Angkatan Laut Kerajaan Gowa hancur lebur di pantai laut Leok Buol. Kerajaan Gowa kemudian meminta kerjasama Pasukan Hengkeng U Naung untuk berperang melawan Kerajaan Bone pimpinan Arung Palakka yang dibawa pengaruh Belanda. Arung Palakka melarikan diri ke Batavia seraya meminta bantuan Belanda sebelum meletusnya Perang Makasar antara Gowa dan Bone pada tahun 1666.

Pada tahun yang sama (1666), Pasukan Kora-Kora pimpinan Hengkeng U Naung sudah kembali ke pangkalan Angkatan Laut di Kedatuan Siau karena mendapat kabar bahwa penghuni Benteng Kastila (Tentara Portugis) sedang melakukan tindakan teror pada penduduk Siau. Ancaman Dalam Negeri ini lantas diberangus oleh Laskar Hengkeng U Naung sampai penduduk kembali hidup merdeka.

Pada usia yang tua (80 tahun) yaitu pada tahun 1668, Hengkeng U Naung meninggal dunia dengan damai dan dimakamkan oleh keluarganya di tempat yang diamanatkannya, Timeno Kiawang.

Sungguh sebuah aksi yang berakhir Malunsemahe untuk Sulawesi Utara dalam KeIndonesiaan Hengkeng U Naung.

Jumat, 14 September 2012

TRILOGI CANGKE (Permainan Berkelompok Anak-Anak Siau)


Saya masih ingat persis cara bermain cangke. Cangke adalah permainan anak-anak di pulau Siau yang menggunakan dua potong kayu. Kayu yang digunakan pada umumnya belahan bambu. Tetapi bisa juga menggunakan kayu yang lebih keras dan berbentuk bulat memanjang. Potongan kayu yang digunakan sebagai pemukul, ukurannya lebih panjang. Biasanya 60 cm sampai 70 cm. Sementara kayu yang lebih pendek ukurannya hanya sekitar 20 cm saja. Kayu pendek itu menjadi rebutan dalam permainan cangke.

Cangke dimainkan oleh dua orang atau lebih secara kelompok berpasangan. Tetapi sangat jarang dimainkan oleh lebih dari 3 pasang atau 6 orang pada ruang yang relatf sempit. Sebelum permainan dimulai, pemain terlebih dahulu menggali lubang berbentuk lonjong yang ujung depannya dibuat lancip. Pasangan yang akan bermain terlebih dahulu melakukan suten jari tangan, sebagai pembuka sekaligus penentuan siapa atau kelompok mana yang akan menjadi pemukul dan penangkap kayu pendek. Aturannya, pemenang suten bertindak sebagai pemain yang memainkan permainannya di lubang dan yang kalah dalam tahapan suten menjadi penangkap kayu pendek. Pihak yang kalah suten ini berdiri berjejer pada jarak kurang lebih 5 hingga 15 meter di depan lubang.

Ada tiga tahapan (stage) yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang bermain di lubang, yaitu:
  1. Stage Soi. Tahap soi ini adalah tahapan paling mudah dikerjakan oleh kedua tim. Salah satu dari anggota kelompok pemukul melakukan tahap soi dengan cara meletakkan kayu pendek melintang di atas lubang lalu kayu pemukul dimasukan kedalam lubang persis menyalib kayu pendek kemudian diangkat sekuat-kuatnya kedepan atau dapat diangkat perlahan sesuai dengan posisi kelompok lawan main yang berjejer di depan. Strategi orang yang melakukan soi pada umumnya memilih celah tempat dimana tidak ada orang berdiri sehingga kayu pendek itu tidak bisa ditangkap oleh kelompok lawan. Bilamana salah seorang dari kelompok lawan berhasil menangkap kayu pendek yang sedang melayang di udara dengan sebelah tangan, maka hitungan pointnya adalah 100 dan kelompok pemukul dinyatakan kalah. Permainan dimenangkan oleh kelompok penangkap. Kompensasinya adalah pasangan dari anggota kelompok yang kalah harus bersedia menggendong pasangannya sampai pada titik terjauh dari kayu pendek yang akan dipukul oleh kelompok penangkap selaku pemenang permainan. Akan tetapi, jika ternyata kelompok penangkap berhasil menangkap kayu kecil dengan dua tangan, maka point yang diperoleh adalah 50. Kelompok penangkap harus menambah pointnya pada kesempatan menangkap di tahap kedua dan atau tahap ketiga. Tetapi jika kelompok penangkap gagal menangkap kayu kecil pada tahap soi ini, itu artinya kesempatan bagi kelompok pemukul untuk melanjutkan tahapan kedua.     
  2. Stage Pepele. Tahap ini permainan mulai menantang. Ada tiga cara memukul; cara pertama yang biasanya diterapkan oleh pemain yang berjenis kelamin perempuan, yaitu, memposisikan kayu kecil dipegang oleh tangan kiri (bagi yg bukan kidal) atau kanan (bagi yg kidal) pada posisi kayu kecil terletak horisontal, lalu dipukul dari arah bawah seperti sedang melakukan service pada permainan badminton. Cara kedua agak sedikit menakuti lawan main, yaitu dengan meletakkan kayu kecil pada posisi vertikal sehingga hasil pukulannyapun cukup keras. Bagi kelompok penangkap yang berdiri pada jarak dekat dengan pemukul, biasanya tidak berani menangkap pukulan bentuk kedua ini dan berusaha menghindar dari arah yang disasar pemukul. Cara ketiga, adalah cara paling keras, yaitu melempar kayu pendek ke udara lantas dipukul dengan kuat sehingga semua anggota kelompok penangkap baik yang di depan maupun yang di belakang pada jarak terjauhpun tidak berani menangkap kayu yang melayang dari pukulan ketiga ini karena tekanannya sangat kuat. Sangat beruntung bagi kelompok penangkap apabila mereka berhasil menangkap kayu pendek yang dimainkan oleh kelompok pemukul pada tahapan pepele ini. 
  3. Stage Cangke. Tahap cangke merupakan tahap puncak sekaligus misi penutup bagi kelompok pemukul. Stage ketiga ini paling menegangkan. Jarang sekali ada kelompok pemukul yang mampu memainkan stage ini dengan sangat sempurna. Tingkat kesulitannya amat tinggi. Ini merupakan kombinasi antara stage 1 dan 2. Kayu kecil diletakkan pada bagian ujung lubang yang lancip dengan posisi kayu pendek mengikuti bentuk lancip dan setengah berdiri. Ujung kayu kecil itu harus lebih menjorok keluar lubang kira-kira 3 cm sampai 6 cm. Posisi memukul dari samping lubang. Bagian yang akan dipukul adalah ujung kayu kecil yang menjorok keluar itu, dengan cukup tenaga dan perasaan, sehingga kayu kecil akan melenting ke atas udara setinggi pandangan pemukul, kemudian pemukul wajib memukul pendek perlahan untuk satu kelipatan 5 poin. Kayu kecil itu makin kuat dipukul makin cepat melesat geraknya kedepan ke arah lawan sehingga memungkinkan lawan untuk menangkap (itupun jika lawan berani menangkap), tetapi jika tidak, maka peluang pemukul semakin besar untuk menambah kelipatan 5 pada pukulan kedua dan seterusnya. Pukulan pemukul pada stage 3 ini disebut pukulan cangke. Bila pemukul berhasil memukul sampai 2 kali, dan pada pukulan ke 2 kayu pendek sudah jatuh ke tanah pada jarak yang dekat dengan posisi lubang, selanjutnya akan dihitung kumpulan poin dari tim pemukul dimulai dari angka 10. Cara menghitungnya dilakukan dengan meletakan kayu panjang pada posisi jatuh kayu pendek ke arah yang simetris dengan posisi mulut lubang. Jika jumlah hitungan mencapai angka 100, artinya kelompok pemukul berhasil memenangkan permainan. Kompensasinya adalah digendong oleh kelompok penangkap yang kalah itu. Tetapi lain halnya ketika pada stage 3 ini, ternyata kelompok penangkap berhasil menangkap pukulan cangke yang amat berbahaya itu dengan satu tangan, maka kelompok pemukul harus mengakui kekalahannya.    
Permainan ini tidak diketahui persis kapan mulai ditemukan. Tetapi saya tahu persis bahwa di kampungku Laghaeng, generasi terakhir yang memainkan permainan cangke adalah generasi saya. Kami bermain sekitar kurun tahun 80-an. Sejak saat itu beberapa orang tua menganjurkan pelarangan terhadap anak-anak mereka untuk tidak melestarikan permainan ini karena terlampau berbahaya. Sayang sekali, seharusnya kita memodifikasi permainan ini dengan menggunakan alat bantu yang dapat digunakan sebagai pelindung. Bagi saya, permainan ini penting dilestarikan karena terkait dengan pembentukan karakter saya sebagai pribadi orang Siau yang malunsemahe.

Rabu, 12 September 2012

Peta Pergerakan Penduduk di Sulawesi Tahun 1880 - 1942.


Bolaang Mongondow merupakan daerah yang pergerakan penduduknya paling lembam di banding dengan Sangir-Talaud, Minahasa dan Gorontalo. Pergerakan penduduk ini mempengeruhi mentalitas sebuah lingkaran budaya.
 
 Sumber: A.J. Gooszen, "Een demografisch mozaiek, Indonesië 1880-1942" [1994]

Selasa, 11 September 2012

BAHA VS PUMPENUNG




Monyet dan kura-kura berkawan baik. Monyet menetap di atas pohon "Dingkalreng" di tepi pantai, tempat kura-kura mandi. Monyet banyak akalnya, tetapi bertingkah buruk pada sahabatnya. Si kura-kura sosok yang halus berperangai senang. Dermawan memberi bagiannya kepada setiap sahabat. Tidak memilih dalam berteman. Kura-kura saat itu masih dilarang hidup di daratan. harus hidup di dalam air. Karena dilarang oleh monyet. Kura-kura teliti meski perlahan gerakannya jika di daratan, tetapi sangat cepat bergerak kalau bertanding dalam air. Juga kura-kura rajin bekerja. Monyet malas, suka tidur di atas pohon, meskipun angin barat bertiup kencang, ia tetap tidur. Jika ditiup angin selatan, barulah monyet dapat jatuh dari atas pohon. Di waktu itu, pantat monyet masih berwarna hitam seperti kulitnya..... Hahahahaha.  

Pada suatu hari, monyet turun dari atas pohon dingkalreng di tepi pantai. Monyet mengajak si kura-kura menanam pisang. Kata monyet, marilah kita berdua bertanding menanam pisang. Jika engkau dapat menanam pisang yang berbuah baik, maka engkau boleh naik dan hidup di daratan, Jika tidak, maka engkau tetap hidup di air laut. Kura-kura mengiakannya. Baiklah sahabatku, kata kura-kura. Monyetpun membagi tempat untuk menanam pisang. Dia menyuruh si kura-kura menanam di bawah kaki bukit, tempat yang jauh dari tepi pantai, supaya dekat baginya memantau pertumbuhan pisang dari atas pohon dingkalreng. Jadi tidak ada satupun pohon pisang yg ditanam monyet bertumbuh. Di bawah kaki bukit, pohon pisang yang ditanam kura-kuralah yang subur pertumbuhannya, buahnya besar. Monyet melihat pohon pisang milik kura-kura bertumbuh bagus, maka senanglah hati monyet....:)

Sampailah waktu pisang sudah masak. Monyet pergi bertamu pada kura-kura. Monyet berkata, pisang yang kau tanam sudah masak dan barangkali akan didahului oleh kelelawar kalau tidak segera dipanen sekarang. Jadi, kita berdua harus segra panen sekarang. Jawab Kura-kura; hai monyet, apa maksud bicaramu? disana itu pisangku, bukan pisang yang kita berdua tanami bersama. Monyet tidak kehilangan akalnya, dirayunya kura-kura: pahamilah kawan, matahari sudah mulai terbenam, sesaat lagi kelelawar akan datang merampok buah pisang yang masak itu. Ayolah kita memanennya sekarang, aku akan naik, dan kau menunggu saja di bawa batangnya, aku akan memberikan bagianmu, bagian yang pertama adalah bagianmu.

Jadilah mereka berdua pergi ke kebun sore itu. Monyet yang lincah tiba-tiba sudah berada di atas pohon pisang. Apa yang terjadi? Monyet sudah memakan buah pisang sendiri. Makan sebuah, menambah sebuah, menamba dua. Habis buahnya. Kulitnya dibuang dihadapan sahabatnya, pemilik pohon pisang. Kekenyanglah si monyet rakus, sampai lupa diri kalau pisang itu bukan hasil jerih payahnya, meksipun dia yang mengajak kura-kura. Sampai buah pisang habis, si kura-kura setia menunggu di bawa pohon, menunggui bagiannya yang dijatuhkan monyet. Setiap yang jatuh adalah kulit pisang. Karena sudah merasa lapar, maka kura-kura membakar besi panjang sampai memerah. Ketika sudah merah, kura-kura mendekat ke batang pisang yang dinaiki monyet, sambil bertanya, mana bagianku monyet? Kekurangajaran si monyet, diberikanlah pantat hitamnya itu ke hadapan kura-kura. Pada saat yang sama, besi merah itu melesat masuk ke pantat monyet. Monyetpun jatuh, melompat tak karuan mencari air untuk menghilangkan panas karna nyala api. Tidak ditemukan tempat yang berair. Sejak saat itu, pantat monyet berubah menjadi merah, si kura-kura diperbolehkan hidup di daratan, mengganti namanya menjadi Pumpenung.

================================================

I baha dedua puikang ko gawe matedu. I baha ketanae su koto dingkalreng su wiwihe apeng tampa i puikang muliwua. I baha maulri akalre, kute lai matingkai si gawene. I puikang bue yanu komalrondo-londo naunge dingang malruase. Maeluge mugeli bageange su apang manga gawene. Tala mumile mugegawe. Puikang orase e bedang tewotonge mawi mubiahe su tanah, mambeng haruse pubiahe su ake. Baugu niseding i baha. Puikang mahirupe maning we malrongge kakanoae su wowong tanah, kute ko pung kasahawue kamageng mutetandung su dalrung sasi. Dingang lai puikang ko marajing muhalre. I baha ho lembie nalrema su koto kalu, maning tiukang u bahe, mang ketikie. Kamageng tiukang u timuhe, nau baha manawo bou koto kalu. Su tempong horo, bengkile baha ko maitung kere pisine..... Hahahahaha.

Pia sihelo i baha limintu bou koto kalu dingkalreng su wiwihe apeng. Baha nuhawu si puikang musuang busa. Engkung i baha, boete kedua mutetandung musuang busa. Kamageng kau makasuang busa mapia buane, i kau botonge mawi su dulunge, kamageng tala, i kau mambeng katana su laude. I puikang nepulu. Entae gawe, kuing i puikang. I baha nengare u tampa pusuangeng busa. Sie namarenta si puikang tadeae penuang busane pakarau dala su kele'u bulude, marau bou apeng. I baha baugu uage, nemile munuang busane su sebu lua su wiwihe apeng, tadeae marani tehungang bou koto dingkalreng. Nau ko takoae sarang simpung u benga busa timuwo bou sasuang i baha. Dala su keleu bulrude, kebi sasuang i puikang simahensong masidada tuwone, nubua delrelrabo buane. I baha nakasilo busa i puikang timuwo masidada, mangkete malruase naung i baha....:)

Nudatingke orase busa seng nasasa. I baha tanae nutingkasake sarang i puikang. I baha nuhabare si puikang, busa sesuange seng kahorokang paniki kamageng tala ligha i alrakeng orase ini. Nau mambeng haruse ligha pakaghising mehono bageang kedua. Engkuing i puikang, kate baha, ko dudato apa teghalre'u? Dala e ko sasuangku, beline sesuang kedua. I baha tala neilang akalre, nilokene i puikang, e kesingka ko kau, matangelo ne seng kasedae, kedio lainge paniki seng mengalra buang busa ko masasa e. Entake ligha tarai kedua. Hedo ia mungawi busa, kau pengampalre su laese, ia mulentu bageang'u. Nau bageang himotongange bageang'u.

Nataraike dedua bawelo e sarang u bele'e. I baha malrinti singkalrendi dingang su koto busa. Apa nariadi? i baha seng kepungintae sisane. Nenginta simbua, nenamba simbau, nusau simbua, nenamba derua. Nasue buane. Pisine nilentune su gawene, teghuang u laese busa. Nukalrianggang i baha, sarang talanakatahendung busa e ko belrine u saghede nusuang, maning be sie nuhawu si puikang. Nau sarang buang busa nasue, i puikang bawa kepungampale lentu e. Apang ko i lentukang baha ketang pisine. Baugu seng nahutung, i puikang sasae nungalra wase, nenutung wase manandu sarang nahamu. Pase ukure nahamu, i puikang tarai nutingkerani sarang laese busa ko niawikang i baha. I puikang mang kedoronge bageange. Sudewe bageangku wue baha? Karea tingkai i baha, nituadenge u bengkile maitung e si puikang. Pase-pase natuade, nehindo dingang u wase mahamu nisungki i puikang sarang bengkile i baha. Nau baha nanawo bu koto busa.I baha nuparadingki kadeae ake gunang mupakateno bengkile seng himena karea putung. Tala nakarea tampa pia ake e. Naneta bou e, bengkile baha nakoa mahamu, i puikang nakatana su dulrunge, nengganti arenge nakoa pumpenung.


BAHOA VS KOMANG


Pia sihebi su tempong bulrang limangu, Bahoa mudorong si komang mutetandung tumalrang. Tampa putetandungang dedua i teta bou apeng u Pehe, mahepuse su apeng u Tanaki.

Bahoa lehe'e manandu, temboe kadio, tatela'e mawenahe, nau masahawu tumedehe. Ho i komang pirua, pia piklurange mabeha, awae kadio, dumaleng ketewe humomang. Bedang i dorongang i bahoa mutentandung. I bahoa mesingka wadange makauntu baugu pia tatela'e. Kerene lai i komang, mesingka ko tala makaroka tatedehang i bahoa.


Ho pondolre dudato, i komang nengire: boete bahoa kedua mutetandung. Ketang i'dorongang si kau, apa bue eka'e kamageng ia makauntu? enkung i komang.

I bahoa nutaragegese lege.....
wuahahahahahaha..... lempang u lempang malrongge kere, ko ta'makalriu si sia. Mambeng ia mudating himotongange.

Naremase i komang.

Nasehu e dudato i Komang dedua Bahoa.
Manga ringang i komang nakaringihe dudato marehe dedua. Nakasilo obote i bahoa. Nau hebi e, apang komang seng ta'nutiki. Kebi lawo kadeae tampa gunang mukimbuni. Apang komang, nudelreantehe su lohang batu, su kanandu apeng Pehe sarang nudating apeng u Tanaki.

Sire ko pendang malrongko; nu'singkenaung.....
Sire ko pendang lome; nu'senggighilang....
Sire ko pendang simpoho; nu'pesesimbuawusa....

Medoka u obote
Medoka u umboge
Dingang u pudarame,
dingang u simpendang,
dingang u kapapande,
dingang u kasasana naung,
komang nasehu nutetandung.

Putetandungang seng ni teta.... bou apeng Pehe sarang nudating apeng Ondong, bou kinoang, i bahoa mang kepukuine si komang. Apang sie mukui, i komang su kihoroe sumimbahe.... I bahoa nubalrikekase mutingkahoro. Pelrinengke seng nudating apeng u Laghaeng, sau e bahoa seng salra lrupa nukibalo; Komang, seng suapa i kau? Engkung i komang, ndaong ia bahoa, ene su tengonu. I bahoa sau nenamba masahawu timela. Nudating ke sie su apeng u Mahuneni. Tatelae seng temang mapedi baugu napalriu masahawu menginsomahe anging.

Napelo su apeng Kapeta, i bahoa nate nalupa.
I komang seng tilahe narenta su apeng Tanaki dingang naung malruase.
Baugu sire nudalahiking sudalrung u pudarame. Kebiahe su dalrung u pendang Malunsemahe.